Berbisnis dengan Allah Ta’ala
Oleh: Lidus Yardi, Guru Pendidikan Agama Islam dan Sekretaris Majelis Tabligh PD Muhammadiyah Kuansing, Riau.
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS At Taubah: 111)
DALAM hadits riwayat Ibnu Jarir dikisahkan, seorang sahabat, namanya Abdullah bin Rawahah RA bertanya kepada Rasulullah SAW. Apa saja kewajiban terhadap Tuhanmu dan dirimu yang kamu tetapkan atas diriku? Rasulullah SAW menjawab: “Aku telah menetapkan agar selalu beribadah kepada Tuhan dan tidak syirik dengan apapun. Sedangkan terhadapku, agar selalu menjagaku sebagaimanan kamu menjaga diri dan hartamu”. Ia bertanya lagi: Apa balasanku, jika aku melaksanakan semuanya? Rasulullah SAW menjawab: “Surga balasannya”. Ia lalu berkata: Itu merupakan jual beli yang menguntungkan. Kami takkan membatalkannya (Dr. Ahmad Hatta, MA., Tafsir Alqur’an Perkata, 2009).
Dialog antara Abdullah dengan Rasulullah SAW di atas menjadi sebab turunnya (asbabul al nuzul) firman Allah SWT: Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka (QS At Taubah: 111). Potongan ayat ini menjelaskan tentang penghargaan Allah SWT terhadap para syuhada. Namun bila dimaknai dalam konteks kehidupan, ayat tersebut menjelaskan proses transaksi atau jual beli antara orang-orang mukmin dengan Allah SWT.
Menariknya, dalam jual beli yang menentukan harga barang biasanya penjual dan pembeli yang menawar. Namun, jual beli dengan Allah SWT sebaliknya, pembelilah yang menentukan harga barang dan penjual tidak boleh lari dari harga yang ditawar. Mengapa? Karena pembeli yaitu Allah SWT, telah menawar diri dan harta orang Mukmin dengan harga yang sangat tinggi di dunia dan akhirat, yaitu surga. Orang yang beriman tidak mungkin menawar harga diri dan hartanya dengan harga yang sangat murah berupa neraka.
Ingatlah, tidak semua diri dan harta manusia akan dibeli oleh Allah SWT. Sebagaimana tidak semua barang yang dijual di pasar akan dibeli oleh pengunjung. Diri dan harta yang akan dibeli dengan harga surga adalah, diri dan harta yang suci. Allah SWT mengingatkan: Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS Asy Syams: 9-10).
Allah SWT menyeru: Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi (QS Ali Imran: 133). Dan, Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenarnya (QS At Tahrim: 8). Rasulullah SAW bersabda, Setiap anak Adam (manusia) bersalah, sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertobat kepada Allah SWT (HR Ahmad).
Sedangkan menyangkut harta, Rasulullah SAW mengingatkan: ”Barangsiapa yang mengumpulkan harta haram lalu menyedekahkannya, ia tidak akan mendapatkan pahala darinya dan dosanya dibebankan kepadanya” (HR Ibnu Hibban). Artinya, harta yang dikumpulkan melalui pekerjaan haram meskipun disedekahkan tidak akan dibeli atau diterima oleh Allah SWT. Sebab, tidak ada konsep kebatilan dicampur dengan kebajikan dalam Islam. Harta yang dibeli oleh Allah SWT adalah harta yang bersih dan suci, alias halal. Halal cara mendapatkannya dan halal dalam pemanfaatannya.
Wallahu A’lam
http://www.eramuslim.com/oase-iman/berbisnis-dengan-allah-taala.htm#.VBjSwEByXFy
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS At Taubah: 111)
DALAM hadits riwayat Ibnu Jarir dikisahkan, seorang sahabat, namanya Abdullah bin Rawahah RA bertanya kepada Rasulullah SAW. Apa saja kewajiban terhadap Tuhanmu dan dirimu yang kamu tetapkan atas diriku? Rasulullah SAW menjawab: “Aku telah menetapkan agar selalu beribadah kepada Tuhan dan tidak syirik dengan apapun. Sedangkan terhadapku, agar selalu menjagaku sebagaimanan kamu menjaga diri dan hartamu”. Ia bertanya lagi: Apa balasanku, jika aku melaksanakan semuanya? Rasulullah SAW menjawab: “Surga balasannya”. Ia lalu berkata: Itu merupakan jual beli yang menguntungkan. Kami takkan membatalkannya (Dr. Ahmad Hatta, MA., Tafsir Alqur’an Perkata, 2009).
Dialog antara Abdullah dengan Rasulullah SAW di atas menjadi sebab turunnya (asbabul al nuzul) firman Allah SWT: Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka (QS At Taubah: 111). Potongan ayat ini menjelaskan tentang penghargaan Allah SWT terhadap para syuhada. Namun bila dimaknai dalam konteks kehidupan, ayat tersebut menjelaskan proses transaksi atau jual beli antara orang-orang mukmin dengan Allah SWT.
Rukun jual beli dalam ayat tersebut terpenuhi. Pertama, penjual yakni orang-orang mukmin. Kedua, pembeli yakni Allah SWT. Ketiga, barang yang diperjual-belikan. Ayat di atas menjelaskan dua barang yang diperjual-belikan, yaitu diri (anfusahum) dan harta (amwaalahum). Keempat, harganya yaitu surga (jannah). Dan Keenam, harus ada ijab-qabulnya. Melalui ayat 111 surat At Taubah tersebut, sesungguhnya merupakan tawaran dari Allah SWT kepada orang mukmin untuk menjual diri dan harta mereka dengan rela (ikhlas).Menjual diri kepada Allah SWT adalah dengan cara beribadah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Menjual harta kepada Allah SWT maksudnya membelanjakan atau memanfaatkan harta di jalan Allah SWT seperti berinfak, bersedekah, dan membayar zakat. Semua amalan yang melibatkan diri dan harta ini akan mendatangkan pahala berbalaskan surga. Inilah bentuk bisnis seorang mukmin dalam hidupnya dengan Allah SWT.
Menariknya, dalam jual beli yang menentukan harga barang biasanya penjual dan pembeli yang menawar. Namun, jual beli dengan Allah SWT sebaliknya, pembelilah yang menentukan harga barang dan penjual tidak boleh lari dari harga yang ditawar. Mengapa? Karena pembeli yaitu Allah SWT, telah menawar diri dan harta orang Mukmin dengan harga yang sangat tinggi di dunia dan akhirat, yaitu surga. Orang yang beriman tidak mungkin menawar harga diri dan hartanya dengan harga yang sangat murah berupa neraka.
Ingatlah, tidak semua diri dan harta manusia akan dibeli oleh Allah SWT. Sebagaimana tidak semua barang yang dijual di pasar akan dibeli oleh pengunjung. Diri dan harta yang akan dibeli dengan harga surga adalah, diri dan harta yang suci. Allah SWT mengingatkan: Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS Asy Syams: 9-10).
Allah SWT menyeru: Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi (QS Ali Imran: 133). Dan, Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenarnya (QS At Tahrim: 8). Rasulullah SAW bersabda, Setiap anak Adam (manusia) bersalah, sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertobat kepada Allah SWT (HR Ahmad).
Sedangkan menyangkut harta, Rasulullah SAW mengingatkan: ”Barangsiapa yang mengumpulkan harta haram lalu menyedekahkannya, ia tidak akan mendapatkan pahala darinya dan dosanya dibebankan kepadanya” (HR Ibnu Hibban). Artinya, harta yang dikumpulkan melalui pekerjaan haram meskipun disedekahkan tidak akan dibeli atau diterima oleh Allah SWT. Sebab, tidak ada konsep kebatilan dicampur dengan kebajikan dalam Islam. Harta yang dibeli oleh Allah SWT adalah harta yang bersih dan suci, alias halal. Halal cara mendapatkannya dan halal dalam pemanfaatannya.
Wallahu A’lam
http://www.eramuslim.com/oase-iman/berbisnis-dengan-allah-taala.htm#.VBjSwEByXFy
Hujan Darah, Hujan Katak..?!!
Hujan Darah (Real Blood) di India...
Baca artikel selengkapnya..!
Hujan Katak di Jepang...
Baca artikel selengkapnya..!
Tadabbur...
Baca juga:
Baca artikel selengkapnya..!
Hujan Katak di Jepang...
Tadabbur...
Q7.133. "Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, KATAK dan DARAH sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa"
- Sombong? Berdosa?
- Fakta unik? ...bahwa India, China, Jepang, Bali adalah negara dan daerah yang kuat mistisnya (baca: kesyirikannya)
Baca juga:
Muhammad Nabi Umat Hindu?
KISI-KISI?
Nabi Adam a.s. diturunkan di daerah India?
- Al-Imam At-Thabari dalam Tarikh Thabari (jilid 1 hal.121-126) menyatakan, Mujahid meriwayatkan keterangan dari Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib yang mengatakan: “Adam diturunkan dari surga ke bumi di negeri India.”
- Thabrani meriwayatkan dari Abdullah bin Umar: “Ketika Allah menurunkan Adam, Dia menurunkannya di tanah India...” (HR Thabrani)
dan usahanya memalingkan manusia keturuan Adam a.s. dari
jalan Allah yang Lurus (shirathalmustaqiim)
...sampai akhir zaman!
jalan Allah yang Lurus (shirathalmustaqiim)
...sampai akhir zaman!
...Hindu dan Budha adalah agama tauhid yang telah dipalingkan dan disesatkan oleh Iblis??
Jumlah Nabi yang diturunkan dan diangkat Allah ta'ala di atas muka bumi berjumlah ribuan dan Muhammad s.a.w adalah Nabi Penutup dari para nabi...
- Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q33.40)
- Dari Abu Dzar Al-Ghifari, ia bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, berapa jumlah rasul?”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Tiga ratus belasan orang.” (HR Ahmad dishahihkan Syaikh Albani). Dalam riwayat Abu Umamah, Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa tepatnya para nabi?”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “124.000 dan Rasul itu 315 orang.”
KESYIRIKAN yang sampai saat ini terus menggerogoti aqidah umat Islam!!!
...usaha Iblis (dan para pengikutnya syetan dari jenis jin dan manusia) terus berlanjut sampai akhir zaman dalam mewujudkan janjinya untuk menyesatkan seluruh manusia keturunan Adam a.s. dari jalan Allah yang lurus!!!
...usaha Iblis (dan para pengikutnya syetan dari jenis jin dan manusia) terus berlanjut sampai akhir zaman dalam mewujudkan janjinya untuk menyesatkan seluruh manusia keturunan Adam a.s. dari jalan Allah yang lurus!!!
Artikel Pertama:
MUHAMMAD ADALAH NABI UMAT HINDU?
Nabi Muhammad adalah nabi umat Hindu? Kalimat itu pasti mengejutkan bagi kebanyakan umat Islam maupun umat Hindu, bahkan mungkin bagi umat di luar kedua agama itu. Betapa tidak, syariat dari dua agama itu sangat jauh berbeda. Mungkinkah nabi Muhammad adalah nabi dari kedua agama itu?
Jika dikatakan bahwa nabi Muhammad adalah juga nabi dari umat Yahudi & umat Kristen, mungkin banyak dari kalangan umat Islam akan setuju, mengingat dalam Al-Qur’an memang terdapat ayat-ayat yang menyatakan kalau kedatangan nabi Muhammad sebenarnya sudah diberitakan dalam kitab-kitab suci pendahulunya, seperti Taurat & Injil. Lima kitab awal dari kitab Perjanjian Lama Kristen adalah apa yang oleh umat Yahudi diakui sebagai Torah/Taurat/Pentatouch, yaitu kitab-kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Sedangkan 4 kitab awal dari kitab Perjanjian Baru Kristen diakui oleh umat Kristen sebagai kitab Injil, yaitu kitab-kitab Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.
Sekalipun umat Islam menyatakan bahwa Taurat & Injil yang diturunkan pada nabi Musa & nabi Isa adalah bukan yang diakui oleh umat Yahudi & Kristen sekarang, atau setidaknya sudah berubah/diubah dari aslinya, banyak para pakar ilmu Kristologi yang menyatakan kalau dalam Taurat & Injil yang diakui umat Yahudi & Kristen sekarang inipun masih terdapat sisa-sisa ramalan kedatangan nabi Muhammad (sebenarnya sangat menarik untuk menampilkan argumentasi pembuktiannya, tapi hal itu bukan topik utama dari tulisan ini).
Jika umat Islam mempercayai ramalan kedatangan nabi Muhammad dalam kitab Taurat & Injil, bagaimana dengan kitab suci umat Hindu? Mungkinkah nabi Muhammad adalah seorang nabi yang kedatangannya sudah diramalkan oleh kitab suci umat Hindu? Itulah yang akan kita bahas di sini.
Sebenarnya dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang dapat dijadikan acuan bahwa nabi Muhammad mungkin saja adalah juga seorang nabi umat Hindu yang ramalan kedatangannya terdapat dalam kitab-kitab suci umat Hindu. Diantaranya:
- Dalam surat Asy-Syu’ara (26) ayat 196: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang yang terdahulu”. Jadi dalam kitab-kitab sebelum Al-Qur’an juga terdapat wahyu Tuhan
- Dalam surat Fatir (35) ayat 24 dinyatakan bahwa tidak ada suatu kaum di masa lalu tanpa seorang pemberi peringatan
- Dalam surat Al-Ahzab (33) ayat 40 dinyatakan bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan dan merupakan penutup para nabi (utusan terakhir)
- Dalam surat Al-Anbiya (21) ayat 107 dinyatakan bahwa nabi Muhammad tidak diutus melainkan untuk seluruh semesta alam.
- Dalam surat Saba’ (34) ayat 28 dinyatakan bahwa Tuhan mengutus Muhammad untuk seluruh umat manusia, pemberi kabar gembira, dan peringatan akan dosa, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
“Semua rasul yang diutus sebelumku hanya berlaku untuk umat/bangsanya saja, tapi aku diutus untuk semua umat manusia”.Sekarang akan kita lihat dalam kitab suci agama Hindu. Ada banyak kitab dalam agama Hindu yang diakui sebagai kitab suci mereka. Dari semuanya yang dianggap paling suci adalah kitab Veda (Weda). Bila diantara kitab-kitab itu ada yang bertentangan, maka yang harus menjadi rujukan utama adalah Weda yang juga masih terbagi lagi menjadi beberapa kitab. Kitab-kitab lain selain Weda adalah: Upanishad, Smriti, Dharma Sastra, Bhagavat Gita, Puranas, dll.
Ayat-ayat ramalan kedatangan nabi Muhammad
Disebutkan dalam Bhavisa Purana dalam Pratisarag Parv III, Khand 3, Adhyay 3, Shalokas 10-27:
“Aryadarma akan tampil di muka bumi ini. ‘Agama kebenaran’ akan memimpin dunia ini. Saya diutus oleh Isyparmatma. Dan pengikut saya adalah orang yang berada di lingkungan itu, yang kepalanya tidak dikucir, mereka akan memelihara jenggot dan akan mendengarkan wahyu, mereka akan mendengarkan panggilan sholat (adzan), mereka akan memakan apa saja kecuali daging babi, mereka tidak akan disucikan dengan tanaman semak-semak/umbi-umbian tapi mereka akan suci di medan perang. Meraka akan dipanggil ‘Musalaman’ (perantara kedamaian).”
Kalau anda baca tulisan di atas dengan baik, maka anda akan melihat bahwa ciri-ciri dari pengikut agama kebenaran yang disebutkan adalah ciri-ciri yang umum terdapat pada umat Islam.
Dalam Atharvaveda book 20 Hymn 127 Shlokas 1-14 disebutkan tentang Kuntupsuktas yang mengisyaratkan bahwa nabi Muhammad akan terungkap kemudian.
- Mantra 1 mengatakan: Ia akan disebut Narasangsa. “Nars” artinya orang, “sangsa” artinya “yang terpuji”. Jadi Narasangsa artinya: orang yang terpuji. Kata “Muhammad” dalam bahasa arab juga berarti: orang yang terpuji. Jadi Narasangsa dalam bahasa Sansekerta adalah identik dengan Muhammad dalam bahasa arab. Jadi Narasangsa adalah figur yang sama dengan nabi Muhammad. Ia akan disebut “Kaurama” yang bisa berarti: pangeran kedamaian, dan bisa berarti: orang yang pindah (hijrah). Nabi Muhammad adalah seorang pangeran kedamaian yang hijrah dari Makkah ke Madinah. Ia akan dilindungi dari musuh yang akan dikalahkannya yang berjumlah 60.090 orang. Jumlah itu adalah sebanyak penduduk Makkah pada masa Muhammad hidup yaitu sekitar 60.000 orang.
- Mantra 2 mengatakan: Ia adalah resi yang naik unta. Ini berarti ia bukan seorang bangsawan India, karena dikatakan dalam Mansuriti (11): 202 mengatakan bahwa Brahma tidak boleh menaiki unta atau keledai. Jadi tokoh ini jelas bukan dari golongan Brahmana (pendeta tinggi Hindu), tapi seorang asing.
- Mantra 3 mengatakan: Ia adalah “Mama Rishi” atau resi agung. Ini cocok dengan nabi agung umat Islam yaitu nabi Muhammad SAW.
- Mantra 4 mengatakan: Ia adalah Washwereda (Rebb) artinya orang yang terpuji. Nabi Muhammad yang juga dipanggil dengan nama Ahmad adalah berarti juga “orang yang terpuji” yang terjemahan bahasa Sansekerta-nya adalah Rebb.
- Dalam Atharvaveda book 20 hymn 21: 6 dinyatakan bahwa di sana disebutkan dengan istilah: “akkaru” yang artinya: “yang mendapat pujian”. Dia akan mengalahkan 10.000 musuh tanpa pertumpahan darah. Hal ini merujuk pada perang Ahzab yang mana Nabi Muhammad mengalahkan musuh yang berjumlah 10.000 orang tanpa pertumpahan darah.
- Dalam Atharvaveda book 20 hymn 21: 7 dinyatakan bahwa Abandu akan mengalahkan 20 penguasa. Abandu juga berarti seorang yatim atau seorang yang mendapat pujian. Ini mengarah pada nabi Muhammad yang seorang yatim sejak lahir dan arti kata Muhammad/Ahmad yang berarti yang terpuji, yang akan mengalahkan kepala-kepala suku dari suku-suku di sekitar Makkah yang berjumlah sekitar 20 suku.
- Dalam Rigveda book 1 Hymn 53: 9 nabi dipanggil dengan sebutan “Suslama” yang artinya lagi-lagi adalah orang yang terpuji yang merupakan arti dari nama Muhammad.
- Dalam Samaveda Agni Mantra 64 dinyatakan bahwa ia tidak disusui oleh ibunya. Hal ini persis dengan nabi Muhammad yang tidak disusui oleh ibunya tapi oleh seorang wanita bernama Halimah.
- Dalam Samaveda Uttararchika Mantra 1500 dinyatakan bahwa Ahmad akan dianugrahi undang-undang abadi, yang jelas mengacu pada nabi Muhammad yang akan dianugrahi kitab suci Al-Qur’an. Tapi karena orang India yang berbahasa sansekerta tidak paham kata Ahmad, maka diterjemahkan menjadi “a” dan “mahdi” yaitu “saya sendiri”, jadi diartikan “saya sendiri yang menerima undang-undang abadi”. Padahal seharusnya “Muhammad sendiri yang dianugrahi undang-undang abadi”.
- Nabi Muhammad diramalkan dengan nama Ahmad pada banyak bagian dalam kitab-kitab Weda. Juga diramalkan pada tak kurang dari 16 tempat yang berbeda dalam kitab weda dengan nama Narasangsa artinya adalah sama dengan arti dari nama Muhammad, yaitu “yang terpuji”.
Kalky Autar
Salah satu ramalan kedatangan nabi Muhammad yang sangat terkenal yang juga telah membuat seorang professor bahasa dari ALAHABAD University India mengajak kepada umat Hindu untuk segera memeluk agama Islam, adalah terdapatnya sebuah ramalan penting dalam kitab suci Hindu tentang kedatangan yang ditunggu-tunggu dari seorang Kalky Avtar (baca: autar). “av” artinya: turun. “tr” artinya melewati. Jadi arti kata Avtar adalah “diturunkan atau diutus untuk turun”. Kalky Avtar artinya adalah: “utusan terakhir”.
Pundit Vaid Parkash -sang professor (yang menulis buku berjudul “Kalky Avtar”), secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW, karena menurutnya, sebenarnya nabi Muhammad adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual dalam agama Hindu.
Disebutkan dalam Nashpropesy, nabi Muhammad diramalkan dengan nama Kalky Avtar (Autar terakhir) dan Amtim Rishi. Sedangkan dalam kitab Puranas disebutkan tentang Kalky Autar dan kedatangannya. Diantara ayat-ayat yang menyebutkan adalah:
- Dalam Baghavata Purana Khand 12 Adhyay 2 Shloka 18-20 disebutkan dalam rumah Visnuyash akan dilahirkan Kalky Avtar yang diramalkan akan menjadi penguasa dunia, yang terkenal dengan sifat-sifatnya yang baik & menonjol. Dia akan diberi tanda-tanda. Dia akan diberi oleh malaikat sebuah kendaraan yang cepat. Dia akan menaiki kuda putih sambil memegang pedang. Dia akan mengalahkan orang-orang jahat dan dia akan terkenal di dunia.
- Dalam Baghavata Purana Khand 1 Adhyay 3 Shloka 25 disebutkan akan ada juru selamat di rumah Visnuyash
- Dalam Kalki Purana (2): 4 disebutkan bahwa di rumah Visnuyash pemimpin kampung Sambala akan lahir Kalki Avtar
- Dalam Kalki Purana (2): 5 disebutkan bahwa dia akan datang bersama para sahabatnya (4 orang sahabat) mengalahkan orang-orang jahat
- Dalam Kalki Purana (2): 7 disebutkan bahwa dia akan dijaga oleh malaikat di medan perang
- Dalam Kalki Purana (2): 11 disebutkan bahwa dalam rumah Visnuyash dan dalam rumah Summati Kalki Autar akan lahir
- Dalam Kalki Purana (2): 15 disebutkan bahwa dia akan lahir pada tanggal 12 bulan pertama Madhop
- Dirumah Visnuyash berarti dirumah pengikut Vishnu (pengikut Tuhan) sedangkan ayah dari nabi Muhammad adalah bernama Abdullah yang artinya adalah pengikut Allah (pengikut Tuhan). Orang Islam menyebut “Allah” sebagai Tuhan, sedang orang Hindu menyebut “Vishnu” sebagai Tuhan. Jadi di rumah Visnuyash adalah di rumah Abdullah.
- Summati dalam bahasa sansekerta artinya adalah orang yang sangat setia. Sedangkan ibunda nabi Muhammad adalah bernama Aminah yang dalam bahasa arab artinya juga orang yang setia.
- Sambala bahasa arabnya adalah tempat yang aman & damai. Nabi Muhammad dilahirkan di Makkah yang terkenal dengan nama “Darul Aman” yaitu tempat yang aman & damai. Akan lahir diantara kepala suku Sambala, artinya bahwa nabi akan lahir diantara kepala suku di Makkah.
- Dilahirkan pada tanggal 12 di bulan pertama Madhop. Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 rabiul awal
- Sebagai Amtim Rishi (resi terakhir). Nabi Muhammad adalah juga nabi terakhir dari deretan nabi-nabi yang dikirim Tuhan spt yang terdapat pada QS. Al-Ahzab: 40.
- Dia akan memperoleh bimbingan di atas gunung dan akan kembali lagi ke arah utara. Nabi Muhammad memperoleh wahyu pertamanya di gua Hira di Jabal Nur. Jabal Nur artinya Gunung Cahaya lalu kembali lagi ke Makkah.
- Dia akan memiliki sifat-sifat yang sangat mulia. Persis seperti nabi Muhammad spt terdapat pada QS. Al-Qalam: 14 “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur”.
- Kalki Autar akan diberi 8 kemampuan spiritual, yaitu: bijaksana, punya kendali diri, keturunan yang terhormat, punya pengetahuan wahyu, pemberani, perkataannya bertarget kurikulum, sangat dermawan, dan sangat ramah. Semuanya adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh nabi Muhammad
- Dia akan diberi kendaraan yang sangat cepat oleh Shiva. Nabi Muhammad juga diberi bouraq yang sangat cepat oleh Allah yang membawanya ke langit dalam peristiwa Mi’raj.
- Dia akan naik kuda putih dengan tangan kanannya memegang pedang. Nabi Muhammad juga ambil bagian dalam peperangan termasuk dengan menunggang kuda dan bertempur dengan memegang pedang dengan tangan kanannya.
- Dia akan menjadi penyelamat umat manusia. Dalam QS. Faatir (35) ayat 24 dan QS. Saba (34) ayat 28 disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah pembawa berita gembira & peringatan bagi seluruh umat manusia, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
- Dia akan menjadi pembimbing ke jalan yang benar. Nabi Muhammad hidup pada jaman jahiliyah yang penuh kegelapan dimana ia membawa umatnya ke jalan yang terang benderang.
- Dia akan dibantu oleh 4 sahabat dalam menyebarkan misi. Kita tau ada 4 orang khalifah sahabat nabi yaitu: Sayyidina Abubakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
- Dia akan ditolong oleh malaikat di medan pertempuran. Dalam perang Badr nabi Muhammad dibantu oleh para malaikat Allah spt tersebut dalam QS. Ali Imran (3) ayat 123 & 125: “Jika kamu bersabar dan bertaqwa dan mereka menyerang kamu dengan seketika itu juga niscaya Allah menolong kamu dengan 5000 malaikat yang memakai tanda”. Juga QS. Al-Anfal(8) ayat 9 yang berbunyi “…. sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
Ternyata sekian banyak ayat tersebut (yang sebenarnya belum semuanya ditampilkan) yang meramalkan akan datangnya seorang nabi yang ditunggu-tunggu oleh umat Hindu, begitu cocok dengan gambaran nabi Muhammad, umat Islam, dan sejarahnya. Mungkin saja ini juga merupakan pembuktian yang diberikan Allah bahwa nabi Muhammad memang diutus Allah untuk seluruh umat manusia.
Hal ini juga dapat membuka diskusi yang menarik tentang agama Hindu, kitab suci umat Hindu, dan syariat-nya. Benarkah agama Hindu memang merupakan agama yang diturunkan oleh Allah jauh sebelum nabi Muhammad lahir? Kalau ya, apakah berarti umat Hindu bisa disebut “muslim”, atau juga bisa disebut “ahlul kitab”? Bagaimana sesungguhnya ajaran agama Hindu itu, dan sesuaikah dengan ajaran Islam?
-rkh-
__oOo__
Artikel Kedua:
HINDU DAN ISLAM TERNYATA SAMA?
Hindu dan Islam ternyata memang sama? Kebanyakan umat Hindu dan umat Islam mungkin juga akan terkejut membaca kalimat tersebut, seperti juga saat membaca tulisan saya tempo hari “Muhammad adalah nabi umat Hindu?”. Tulisan ini memang saya buat sebagai kelanjutan dari tulisan itu yang memang sudah saya janjikan untuk saya buatkan kelanjutannya.
Mungkin tidak seorangpun yang pernah membayangkannya, tidak juga saya sendiri. Hal ini saya dapatkan dalam sebuah ceramah dari Dr. Zakir Naik, seorang ulama perbandingan agama kelas dunia yang berasal dari India, seorang ulama yang terkenal sangat brillian, dimana dalam setiap ceramah ataupun diskusi/debat ilmiah tentang agama, dia selalu dapat menyebutkan dalil-dalil yang tepat untuk setiap permasalahan yang merujuk pada kitab-kitab suci agama Islam, Yahudi, Kristen, dan Hindu, dimana semuanya dia menyebutkan secara hapal diluar kepala, dan dilakukan di hadapan masing-masing umat agama-agama tersebut termasuk ulama-ulama dan pendeta-pendetanya.
Hal itu tidak mungkin berani ia lakukan kalau memang tidak mempunyai kemampuan untuk memahami & menghapal masing-masing kitab suci tersebut (meskipun mungkin utk kitab-kitab selain Al-Qur’an tidak 100% hafal). Itupun mungkin masih ada kitab-kitab agama lain lagi yang juga ia juga paham & hapal isinya, misalnya kitab-kitab agama Budha, yang hal ini belum saya ketahui karena belum pernah melihat ceramahnya atau debat ilmiah religi-nya yang berhubungan dengan agama Budha, kalau yang berhubungan dengan agama Islam, Kristen, Yahudi, dan Hindu, saya sudah melihatnya sendiri.
Ada satu hal yang menjadi dasar apabila kita ingin untuk mengetahui ajaran dari suatu agama dengan lebih baik, yaitu dari kitab suci-nya. Ya benar, kitab suci-nya. Hal ini juga membuat saya teringat saat SD dulu pernah diajarkan bahwa syarat sebuah ajaran/kepercayaan dapat dikatakan sebagai agama, adalah adanya kitab suci. Tanpa itu tidak layak sebuah ajaran/kepercayaan dipandang sebagai sebuah agama.
Orang dapat mengatakan agamanya mengajarkan ini dan itu, bahwa mereka harus mempercayai dan melakukan ini dan itu, tapi jika itu semua ternyata berbeda atau bertentangan dengan apa yang disebutkan dalam kitab sucinya, maka semua yang dipercayai atau dijalankan itu mungkin saja tidak akan ada gunanya. Karena dalam agama apapun selalu ada (sedikit atau banyak) pengaruh kebudayaan atau bahkan pemikiran/ajaran yang dianggap orang menjadi bagian dari ajaran agama tsb, tapi ternyata bukan seperti itu yang diajarkan dalam kitab sucinya. Dan ternyata bila kita membaca dan mempelajari suatu agama langsung dari kitab sucinya, kita akan menemui hal-hal yang sangat menarik yang mungkin sangat berbeda dari pemahaman kita semula tentang suatu agama, seperti yang sudah dilakukan dengan sangat baik oleh ulama-ulama besar perbandingan agama seperti Ahmed Deedat dan Zakir Naik, seperti topik utama yang akan kita bahas dalam tulisan ini.
Definisi Hindu
Agama Hindu adalah sebuah agama yang berasal dari daratan India, kemudian baru menyebar ke seluruh dunia. Sesungguhnya kata Hindu memiliki definisi geografis, yaitu orang atau keadaan orang yang menghuni di sekitar sungai Sindu. Menurut ahli sejarah, kata Hindu pertama kali dipergunakan oleh orang Persia ketika pertama datang ke India melalui jalan sebelah barat laut Himalaya. Menurut Encyclopedia of Religion and Ethics vol. 6 ref 699: kata Hindu tidak ada disebutkan dalam setiap literatur India, bahkan dalam kitab sucinya sendiri sebelum orang Muslim datang ke India.
Menurut Jawaharlal Nehru dalam bukunya Discovery of India hal. 74-75 kata Hindu pertama kali digunakan pada abad ke 8 pada masa Persia, dan tidak pernah digunakan untuk menerangkan pengikut agama tertentu, tapi untuk menunjukkan suatu komunitas masyarakat. Dan kata Hindu pertama kali digunakan oleh orang Inggris untuk menunjukkan kepercayaan sebagian besar orang India.
Menurut Encyclopedia Britanica vol. 20 Ref. 581: kata Hindu pertama kali digunakan oleh penulis Inggris pada tahun 1830 untuk menggambarkan keadaan dan kepercayaan orang India. Dan karena berasal dari orang Inggris, maka kata itu sekarang menjadi bahasa Inggris.
Sebenarnya orang Hindu terpelajar keberatan thd penggunaan kata itu, karena menurut mereka itu salah kaprah. Seharusnya nama agama Hindu adalah: Sanata Dharma (agama yang abadi), Vedic Dharma (agama Weda), atau Vedantist (pengikut Weda). Hal ini karena kata Sanata Dharma, Vedic, ataupun Vedantist memang ada tersebut dalam kitab-kitab suci Hindu. Apalagi saat ini agama Hindu sudah menyebar ke seluruh dunia, bukan hanya menjadi kepercayaan yang dianut oleh orang India saja.
Definisi Islam
Islam berasal dari kata bahasa arab “salam” yang artinya “damai”, atau kata “slim” yang artinya penyerahan diri pada Tuhan. Jadi Islam berarti: kedamaian yang didapat karena penyerahan diri pada Tuhan. Dan semua yang menyerahkan diri kepada Tuhan disebut muslim.
Kata Islam banyak terapat dalam Qur’an dan hadits nabi spt di QS. Al-Baqarah (2): 208, sedangkan kata muslim banyak juga terdapat dalam Qur’an & hadits spt pada QS. Ali Imran (2): 64
Sebenarnya menurut kepercayaan agama Islam, adalah salah kalau mengatakan Islam adalah sebuah agama yang didirikan oleh nabi Muhammad. Islam sudah ada sejak dahulu, sejak manusia pertama ada di bumi ini. Nabi Muhammad bukanlah pendiri Islam, melainkan penutup para nabi. Jadi sebelum nabi Muhammad telah ada banyak nabi-nabi yang lain yang juga mengemban amanat Tuhan untuk menyebarkan ajaran agama dari Tuhan.
Konsep Tuhan dalam Hindu
Menurut orang Hindu awam, Tuhan bisa ada 1, 10 ,100, 1000, atau mungkin sejuta. Tapi kalangan Hindu yang terpelajar (umat Hindu yang mempelajari kitab suci & sejarah Hindu) akan mengatakan bahwa ajaran Hindu hanya percaya pada satu Tuhan.
Kebanyakan umat Hindu menganut paham Phanteism/Fantaisme (Pancaran), yaitu “Everything is God” (semua adalah Tuhan). Matahari, bulan, bintang, bahkan ular-pun dianggap Tuhan. Sedang umat Islam menganut paham “Everything is God’s” (semuanya milik Tuhan). Pohon, manusia, bumi, bulan, bintang, dll. semua adalah milik Tuhan. Dalam Hindu –> God, dalam Islam –> God’s, perbedaannya hanya pada “’s”. Maka jika umat Hindu & Islam sepakat pada “’s” ini maka mereka akan bersatu.
Kitab suci Hindu
Kitab Hindu terbagi dalam 2 kategori besar, yaitu: Sruti dan Smiriti. Sruti = sesuatu yang diturunkan, yang didengar, yang dirasakan, dan yang dipahami. Inilah yang diakui oleh cendekiawan Hindu sebagai wahyu Tuhan dan derajatnya lebih tinggi dari kitab-kitab lain. Sruti terbagi dua yaitu: Weda dan Upanishad.
Veda diambil dari kata sansekerta “ved” yang artinya: pengetahuan. Jadi Weda artinya: pengetahuan yang sangat mulia.
Veda dibagi menjadi:
- Rigveda –> inti weda
- Yajurveda –> tentang mantra
- Samaveda –> tentang melodi
- Atharva veda –> formula magis
Kitab “kelas dua” setelah Sriti adalah Smriti. Smriti artinya ingatan. “sm” berarti mengingat. Cendekiawan Hindu mengatakan kitab ini bukan dari Tuhan, tapi buatan manusia sebagai petunjuk hidup sehari-hari. Ada juga kitab itihas – epik, ada 2 epik besar yaitu: Ramayana & Mahabarata yang mengisahkan tentang peperangan.
Ayat-ayat tentang Tuhan dalam kitab Hindu
Dalam kitab Upanishad:
- Chandogya Upanishad Ch. 6 Sec. 2 V. 1 menyatakan bahwa Tuhan hanya ada satu.
- Shvetashatara Upanishad Ch. 6 V. 9 menyatakan bahwa Tuhan itu tidak punya ibu dan bapak, Dia tidak punya tuan dan pelindung.
- Shvetashatara Upanishad Ch. 4 v. 19 menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada sesuatupun yang menyerupai Dia
- Shvetashatara Upanishad Ch. 4 v. 19 menyatakan bahwa Tuhan tidak bisa dilihat. Tidak ada orang yang mampu melihat dengan mata.
- Bhagavat Gita Ch. 10 V. 3 menyatakan bahwa Dia tidak dilahirkan, tak ada permulaan, Tuhan seru sekalian alam.
- Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan, Dia tidak pernah dilahirkan, Dia yang berhak disembah
- Yajurveda Ch. 40 V. 8 menyatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan dia suci
- Yajurveda Ch. 40 V. 9 menyatakan bahwa “Andhatma pravishanti” artinya memasuki, dan “assambhuti” artinya benda/alam seperti api, air, dan udara. Maksudnya mereka yang menyembah benda/alam spt api, air, udara, telah masuk kedalam kegelapan
- Atharvaveda Bk. 20 Hymn 58 V. 3 menyatakan bahwa sungguh Tuhan itu Maha Besar
- Pada Rigveda yang dianggap paling suci, pada Rigveda Bk. 1 Hymn 64. V. 46 dinyatakan: Tuhan itu Maha Esa, panggillah Dia dengan berbagai nama. Di Islam juga ada 99 nama untuk Tuhan yang satu.
- Juga diulangi pada Rigveda Bk. 10 Hymn 114 V. 5 menyatakan Tuhan itu satu tapi Dia disebut dengan nama yang bermacam-macam
- Pada Rigveda Bk. 2 Hymn 1 menyatakan bahwa ada 33 nama yang ditujukan pada Tuhan, diantaranya: #Rigveda Bk. 2 Hymn 1 V. 3: Brahama (pencipta), bahasa arabnya Choliq. Umat muslim tidak keberatan kalau Allah dipanggil dengan Khalik atau Creator, atau Brahama. Tapi kalau orang menyebutkan Brahama itu adalah Tuhan yang berkepala 4 dengan mahkota, umat muslim sangat tidak setuju. #Shvetashvatara Upanishad Ch. 4 V. 19 menyatakan tidak ada satu makhlukpun yang menyerupai Tuhan. #Rigveda Bk. 2 Hymn 1 V. 3: Vishnu (Wishnu) artinya Sustainer (pemelihara alam), yang memberi rizki. Bahasa arabnya adalah “Rabb”. Orang muslim tidak keberatan Allah disebut Rabb, Vishnu, Sustainer, Cheriser. Yang jadi masalah adalah Vishnu adalah Tuhan yang punya 4 tangan, tiap tangan memegang cakra, tangan kirinya memegang rumah kerang, menaiki seekor burung garuda sambil bersandar pada gulungan ular. Umat muslim tidak bisa menerima itu.
- Apalagi Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan
- Rigveda Bk. 1 Hymn 1 V. 1 menyebutkan: kami tidak menyembah kecuali Tuhan yang satu
- Rigveda Bk. 6 Hymn 45 V. 6 menyebutkan “sembahlah Dia saja, Tuhan yang sesungguhnya”
- Dalam Brahama Sutra disebutkan: “Hanya ada satu Tuhan, tidak ada yang kedua. Tuhan tidak berbilang sama sekali”.
Jawaban terbaik umat Islam tentang Konsep Tuhan adalah apa yang terdapat pada QS. Al-Ikhlas (112): 1-4:
- Ayat 1: Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa”
- Ayat 2: Allah tempat meminta segala sesuatu
- Ayat 3: Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
- Ayat 4: dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.
- QS. Al-Ikhlas (112): 1 = Chandogya Upanishad Ch. 6 Sec. 2 V. 1 –> Tuhan hanya satu.
- QS. Al-Ikhlas (112): 2 = Bhagavat Gita Ch. 10 V. 3 –> Dia adalah Tuhan semesta alam
- QS. Al-Ikhlas (112): 3 = Shvetashatara Upanishad Ch. 6 V. 9 –> Tuhan tidak punya bapak & ibu
- QS. Al-Ikhlas (112): 4 = Shvetashatara Upanishad Ch. 4 v. 19 dan Yajurveda Ch. 32 V. 3 –> tidak ada yang menyerupai Tuhan
Sebagai contoh:
Ada “sebagian” umat Hindu yang menyatakan bahwa Bhagwan Rajneesh adalah Tuhan. Dalam kitab suci Hindu memang tidak ada satupun yang menyatakan dia adalah Tuhan, tapi ada orang-orang yang menyatakan dia sebagai Tuhan. Untuk mengetahui seseorang/sesuatu adalah Tuhan, masukkan dalam ayat-ayat tadi, kalau lulus, dia benar Tuhan, kalau tidak berarti dia “Tuhan palsu”.
Al-Ikhlas ayat 1: dia unik / hanya satu-satunya? Tidak. Masih banyak orang lain yang mengaku sebagai Tuhan. Banyak orang juga menjalani kehidupan seperti dia: makan, minum, tidur, berbicara, dll.
Al-Ikhlas ayat 2: dia mutlak dan abadi? Tidak. Dia penderita asma, penyakit gula, dan nyeri punggung kronis. Tuhan penyakitan? Dan pada akhirnya dia juga mati seperti manusia lainnya. Tuhan mati?
Al-Ikhlas ayat 3: dia tidak dilahirkan dan tidak punya ayah-ibu? Dia lahir di India dan punya ayah-ibu. Th 1981 dia pergi ke Amerika dan melakukan ribuan kunjungan di Amerika, kemudian membangun sebuah kota di daerah Oregon yang bernama Rajneesh furm. Tapi kemudian dia ditangkap di Amerika dan pemerintah Amerika menaruhnya di Furmbash. Dan dia mengaku sebagai Tuhan di Amerika. Dan orang yang mengaku Tuhan itu minta rokok ketika di penjara. Tuhan dipenjara? Tuhan minta rokok? Setelah dia kembali ke India, di kota Puna dia kembali membuat markas yang dikenal sebagai masyarakat Osho. Di sana ada sebuah prasasti bertuliskan “Rajneesh tidak pernah lahir dan tidak pernah mati, pernah singgah di planet bumi pada tgl 11 des 1991 s/d 19 jan 1990”. Tapi mungkin mereka lupa mencantumkan kalau ia pernah tidak diijinkan masuk ke 21 negara karena tidak punya visa. Tuhan yang menciptakan dunia harus mengemis visa untuk masuk ke negara-negara yang terdapat dalam bumi yang telah diciptakan-Nya?
Al-Ikhlas ayat 4: tidak ada makhluk yang menyerupai Tuhan. Jadi apapun dan siapapun di jagat raya ini yang dibandingkan dengan Tuhan, maka dia bukanlah Tuhan. Rajneesh adalah manusia yang sama dengan manusia lain.
Makhluk apapun di alam semesta ini tidak ada yang akan lolos dari ayat ini untuk dapat dinyatakan sebagai Tuhan.
Orang Islam memanggil Tuhannya dengan nama “Allah”. Sekalipun kata “Allah” secara umum bisa diartikan sebagai Tuhan, tapi nama ini adalah nama yang unik, benar-benar menyatakan ke-esa-an Tuhan, tidak bisa seperti kata “God” dalam bahasa Inggris yang bisa jadi Gods, Godes, God father, God mother, dll. yang tidak dapat digunakan untuk meyatakan ke-esa-an Tuhan. Bahkan kalau dalam bahasa Indonesia kita mengenal dua kata yang berbeda untuk “Tuhan” dan “Dewa”, maka kata “God” dalam bahasa Inggris tidak bisa membedakannya. Misalnya kata “God of gambler” bukan diartikan sebagai Tuhannya penjudi, tapi diartikan sebagai Dewa Judi.
Konsep kehidupan dan kematian dalam Hindu
Umumnya umat Hindu percaya apa yang dinamakan “Samsara”, yaitu perputaran kelahiran & kematian berulang kali, yang dikenal dengan nama “Reinkarnasi”. Yaitu orang yang sudah mati rohnya akan berpindah pada sosok lain yang akan lahir kembali di dunia. Bila amalannya baik, maka ia akan terlahir kembali dengan kehidupan yang lebih baik, tapi bila amalannya jelek ia akan terlahir kembali dengan kehidupan yang buruk atau menjadi makhluk yang lebih rendah derajatnya. Begitulah terjadi berulang kali. Mereka mengatakan konsep Samsara inilah yang dapat menjawab mengapa ada orang yang lahir cacat dan miskin. Sebab untuk apa Tuhan menciptakan orang cacat dan orang miskin di dunia ini? Begitulah kepercayaan umum kebanyakan umat Hindu.
Akan tetapi ternyata hal ini tidak terdapat dalam Weda. Yang disebutkan Weda hanya “Punarjanam” atau hidup berikutnya atau hidup lagi, tapi bukan perputaran hidup-mati. Para cendekiawan Hindu mengatakan bahwa tidak pernah ada konsep perpindahan roh / reinkarnasi dalam Weda.
- Rigveda Bk. 10 Hymn 16 V. 4 – 5 berbicara mengenai kehidupan sesudah mati, bukan perputaran hidup-mati.
- Dalam Weda juga terdapat konsep surga dan neraka yang mirip dengan konsep dalam Islam. Surga digambarkan sebagai tempat yang sangat indah, banyak mengalir sungai susu, buah-buahan bermacam-macam, tempatnya indah, dll. Neraka juga digambarkan mrip dengan konsep dalam Islam, dimana neraka digambarkan dengan gambaran api, dimana di neraka orang akan mengalami penderitaan.
Terdapat beberapa ayat yang dapat jadi acuan:
- QS. Al-Baqarah(2): 28 menyebutkan bahwa manusia pada awalnya adalah mati, kemudian dihidupkan oleh Allah, lalu akan mati dan dibangkitkan kembali.
- QS. Al-Mulk(67): 2 menyebutkan bahwa Allah yang menciptakan hidup untuk jadi batu ujian. Hidup ini adalah ujian untuk kesuksesan di akhirat.
- QS. Ali-Imran (3): 185 menyebutkan bahwa setiap jiwa akan merasakan mati, pada hari akhir akan diperhitungkan semua amalan manusia. Orang-orang yang selamat dari siksa api neraka dan memasuki surga, di sana mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan di dunia, dunia ini hanyalah berisi permainan dan tipuan belaka.
- QS. Al-Baqarah (2): 24 isinya menjelaskan tentang neraka.
Minuman keras dalam Hindu dan Islam
QS. Al-Maidah(5): 90 menyebutkan larangan terhadap minuman keras, judi, menyembah berhala, mengundi nasib, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syaitan. Dan menyuruh menjauhi perbuatan itu agar mendapat keberuntungan.
Dalam Hindu ternyata juga ada konsep yang serupa:
- Minuman keras dilarang dalam kitab-kitab Hindu: Manusmriti Ch. 9 V. 235, Manusmriti Ch. 11 V. 55, Rigveda Bk. 8 Hymn 2 V. 12, dan banyak lagi bagian yang lain
- Judi dilarang dalam kitab Weda, misalnya: Rigveda Bk. 10 Hymn 34 V. 3
- Mengundi nasib dengan bermain dadu dilarang, mis: Rigveda Bk. 10 Hymn 34 V. 13
- Hal-hal yang berhubungan dengan meramal adalah dosa, mis: Manusmriti Ch. 9 V. 258
Telah dikenal secara luas bahwa dalam Islam terdapat konsep poligami. Masalah yang belakangan sempat jadi isu kontroversial dengan pendapat yang pro dan kontra. Secara umum pula banyak orang (di dalam ataupun di luar Islam) telah menganggap bahwa konsep poligami hanya ada di agama Islam. Tentang topik ini lebih lengkap anda bisa membaca tulisan saya tentang Poligami.
Di Islam konsep Poligami terdapat dalam surat An-Nisa’ ayat 3. Bagaimana dalam Hindu? Adakah disebutkan tentang poligami? Beberapa yang hal dapat dijadikan acuan adalah:
- Vishnusutra Ch. 24 V. 1 menyebutkan kalau ayahanda Sri Rama punya 4 istri
- Mahabarata Anushasana Parva Sec. 15 menyebutkan Krisna punya 16100 istri
- Jika dianalisa, orang Hindu boleh mempunyai istri berapapun ia mau, hanya pemerintah India saja yang membatasi dengan mengeluarkan undang-undang perkawinan pd th 1956 bahwa orang Hindu hanya boleh menikah dengan 1 istri, sedangkan kitab sucinya membolehkan sesukanya.
- Dalam data pemerintah India, terdapat data poligami dari seluruh penduduk India, bahwa dalam kurun waktu 10 tahun dari tahun 1961 – 1971 orang muslim yang berpoligami sebanyak 4.31% dari jumlah komunitasnya, sedangkan orang Hindu yang poligami adalah sebanyak 5.06% dari jumlah komunitasnya.
- Hindu juga punya konsep Jihad yang sama dengan Islam yaitu berjuang/berperang melawan kebathilan, seperti pada: Bhagavat Gita 2: 50 ketika Krisna menyuruh Arjuna untuk berjihad, “Berjihadlah engkau demimemperoleh “Yoga” (syahid). Jihad itu demi kebaikan kamu, Jihadlah!
- Kalau di Al-Qur’an terdapat kisah-kisah tentang perang, Kitab Mahabarata adalah kitab yang berisi peperangan antara Pandawa dan Kurawa. Kitab setebal ribuan halaman itu isinya hanya kisah peperangan.
- Bhagavat Gita –> adalah berisi nasihat Sri Krisna kepada Arjuna di medan pertempuran
- Bhagavat Gita Ch.1 V. 42-46 –> Arjuna berkata pada Sri Krisna kalau ia lebih baik mati tak bersenjata tanpa perang daripada harus membunuh saudara sepupu (Kurawa)
- Bhagavat GitaCh. 2: 2 –> Krisna berkata, “Oh Arjuna kenapa pikiran kotor itu bisa masuk ke dalam benakmu? Kalau engkau enggan berperang, engkau tidak akan masuk surga, kenapa engkau berkata seperti itu, itu bisa melemahkan hatimu.”
- Bhagavat Gita Ch. 2: V.31-33 –> Hai Arjuna, kamu ini satria, kamu harus berperang. Dengan begitu engkau akan masuk surga, mereka tidak.
Hadits Bukhari Vol. 1 kitab Iman hadits no. 8 menyatakan: Islam itu terdiri atas 5 tiang: Syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji.
- Syahadat –> kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah (konsep Tuhan yang Esa) dan Muhammad adalah utusan Allah. Di atas sudah dibuktikan bahwa konsep Tuhan yang Esa memang ada dalam Hindu. Dan tentang Muhammad adalah utusan Tuhan juga sudah pernah kita bahas di tulisan “Muhammad adalah nabi umat Hindu?”
- Sholat –> kegiatan utama dlm sholat adalah bersujud, seperti terdapat pada: QS. Ali-Imron(3): 43 dan QS. Al-Hajj(22): 77. Dalam Hindu ada banyak bentuk peribadatan, salah satunya disebut “Shastang” yang artinya menyembah dengan 8 anggota badan. Bila kita perhatikan sujud juga dilakukan dengan 8 anggota badan, yaitu: dahi, hidung, 2 telapak tangan, 2 lutut, dan 2 kaki. Jadi dalam Hindu juga ada konsep beribadah dengan bersujud seperti dalam sholat.
- Zakat –> Rigveda Bk. 10 Hymn 117 ayat 5 menjelaskan tentang berderma.
- Puasa –> Manusmriti Ch. 4 ayat 222 dan Manusmriti Ch. 6 ayat 24 menyebutkan tentang puasa
- Rigveda Bk. 3 Hymn 29 ayat 4 menyebutkan tentang “Ilaspad” yang artinya adalah juga baitullah. Dan juga dikatakan berada di tengah-tengah dunia “prathvi”. Dan kita tahu letak Mekkah ada ditengah dunia pada daerah garis Katulistiwa. Hal yang sama Juga disebut pada Rigveda Bk. 1 Hymn 128 V 1.
Kembali ke ajaran kitab suci
Sumber referensi pada akhir ceramahnya menyampaikan suatu hal yang sangat menarik tentang ajakan untuk kembali ke kitab suci sebagai dasar utama ajaran agama. Karena hanya dengan kembali ke kitab suci-lah
seseorang dapat menemukan esensi sebenarnya dari ajaran agamanya yang mungkin saja tidak pernah diketahuinya karena minimnya akses umat ke kitab suci, dan selama ini hanya menerima saja apa yang diberikan oleh pemimpin agama mereka. Masalahnya adalah banyaknya para pemuka agama yang melarang umatnya untuk membaca kitab suci, membuat terhalangnya umat untuk memahami kitab sucinya.
Islam yang tidak mengenal konsep kependetaan sebagai perantara antara umat dan Tuhannya dapat menjadi contoh yang bagus dimana justru dengan tidak adanya konsep kependetaan itu membuat umat Islam mempunyai akses terhadap kitab sucinya jauh lebih besar dibandingkan umatumat agama lainnya.
Ia juga berpendapat, seperti umat Islam yang tetap menjaga bahasa arab dalam Al-Qur’an, seharusnya umat Hindu juga menghidupkan lagi bahasa Sansekerta sebagai alat untuk memahami kitab sucinya, karena seperti yang sudah sering berhasil ia buktikan dalam berbagai diskusi agama, sebuah kitab suci akan lebih dapat dipahami dengan benar apabila ia dibaca dan dipahami melalui bahasa aslinya. Ia mengatakan, Jika orang Hindu memahami kitab sucinya dengan baik, mereka akan menemukan bahwa kitab suci Hindu dan Islam sama berbicara tentang Tuhan yang satu, mereka akan punya misi yang sama seperti yang dikatakan oleh nabi Muhammad, dan mereka akan percaya adanya kehidupan setelah kematian.
Beberapa pertanyaan yang mungkin timbul dari apa yang dipaparkan di atas tadi adalah:
Kalau ternyata banyak ajaran yang sama antara Hindu dan Islam, apakah itu berarti bahwa umat Hindu juga bisa disebut Ahlul Kitab? Jawaban ini mungkin bisa mewakili: “Dalam pandangan Islam, mungkin saja kitab Hindu adalah dari Tuhan dan tokoh-tokohnya adalah nabi utusan Tuhan. Tapi andaikata itu benar, itu hanya untuk masa lalu, setelah nabi Muhammad datang dengan ajarannya, itulah yang harus diikuti..”. Dalam ajaran Islam jelas menyatakan bahwa pada masa sebelum Al-Qur’an dan nabi Muhammad, sudah terdapat ajaran dan kitab-kitab suci dari Tuhan, tetapi setelah nabi Muhammad dan Al-Qur’an muncul, itulah versi terakhir dan terlengkap untuk menyempurnakan semua ajaran-ajaran Tuhan yang telah diturunkan sebelumnya.
Lantas kalau agama Hindu itu memiliki banyak kesamaan dengan Islam, apakah kita setuju dengan pendapat bahwa semua agama adalah sama? Beberapa hal berikut bisa menjadi pertimbangan:
- Kalau semua agama sama, tidak akan ada orang yang berdakwah untuk agamanya. Bahkan semua orang tidak akan keberatan untuk berpindah agama sebulan sekali misalnya. Tapi kenyataannya tidak mudah bagi seseorang untuk berpindah agama, termasuk mereka yang sering berteriak menyatakan bahwa semua agama adalah sama. Hanya mereka yang benar-benar telah menemukan alasan yang benar-benar kuat secara pribadi-lah yang mampu melakukannya.
- Mengatakan semua agama sama adalah seperti menanyakan 2+2 = berapa? apakah 2, 3, atau 4?, lalu ada orang yang menjawab bahwa semuanya benar. Hal ini tentu saja tidak benar. Dari sekian banyak agama pasti ada yang 100% firman Tuhan. Tidak masalah mana yang seorang percayai kalau ia yakin pilihannya adalah 100% benar, karena itu adalah haknya. Tapi karena perbedaan itu pasti ada, cara terbaik mengetahui mana yang paling baik dan paling benar, adalah dengan mengumpulkan semua kitab suci agama-agama dan mempelajarinya, kemudian memilih yang paling baik dan paling benar diantaranya.
- Maka kalau kita ingin mengetahui apakah semua agama memang sama, atau apakah semua agama memang beda dan ingin mengetahui yang paling benar diantaranya (danini merupakan hak setiap orang), jalan satu-satunya adalah dengan mempelajari dan mendalami perbandingan agama dengan mencari tahu sebanyak mungkin ajaran-ajaran utama dari berbagai agama (nomor 1 adalah dari kitab sucinya) dan mengadakan studi komparatif secara ilmiah terhadapnya. Karena kalau kita juga mempelajari agama-agama lain untuk mencari kebenaran yang merupakan hak semua orang, maka insyaallah Tuhan juga akan menunjukkannya pada kita.
-rkh-
“Tulisan ini dibuat bukan untuk menggali perpecahan, tetapi justru untuk menanam kebersamaan sesuai dengan tema ceramah dari sumber referensi yang dengan ceramahnya itu berharap agar umat kedua agama dapat melihat sebuah inti persamaan dalam agama mereka, sehingga mereka akan lebih mudah untuk bersatu (hal ini didasarkan pada kerapnya terjadi pertikaian antara kedua pemeluk agama tsb di India sana).”
“Tentu saja orang boleh berbeda pendapat asal dapat menyikapinya secara baik dan dewasa. Semoga dapat berguna bagi kita semua dalam pencarian kebenaran yang hakiki.” :)
Referensi:
- Ceramah dr. Zakir Abdul Karim Naik, seorang ulama perbandingan agama terkenal dari India, dalam topik: “Persamaan antara Hindu dan Islam”
Sumber Artikel 1 | Sumber Artikel 2 | Download
Pemimpin adalah Cerminan dari yang Dipimpinnya
(Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya)
"Sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian..."
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, keluarga dan sahabatnya.
Mengapa kita sering membicarakan kejelekan pemerintah, namun melupakan kejelekan pribadi? Mengapa kita selalu mencela penguasa, dan tak pernah mencela berbagai penyimpangan kita? Sebenarnya, pemerintah adalah cermin rakyatnya.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah ditanya oleh seseorang: “Mengapa saat Abu Bakar dan Umar menjabat sebagai khalifah kondisinya tertib, namun saat Utsman dan engkau yang menjadi khalifah kondisinya kacau?" Jawab Ali: “Karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku dan Utsman, namun saat Utsman dan aku yang menjadi khalifah, pendukungnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu”. (Syadzaraat Adz Dzhahab 1/51)
Jadi, ketika penguasa seenaknya mengeruk kekayaan negara dan memenjarakan rakyat tak berdosa, penyebabnya adalah dosa rakyat yang melalaikan kewajiban dan tenggelam dalam maksiat. Demikian pula ketika rakyat memberontak dan menjatuhkan si penguasa, itu pun akibat kesalahan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, loyal kepada orang kafir, tenggelam dalam foya-foya dan menelantarkan urusan negara.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah mengatakan dalam acara Liqa’ al-baabil maftuh, yaitu acara pertemuan antara beliau dengan masyarakat umum untuk tanya-jawab, yang diadakan di rumah beliau: "Waliyyul amr, baik dari kalangan ulama’ maupun umara’, pasti punya banyak kesalahan. Akan tetapi, dalam sebuah atsar disebutkan kamaa takuunuu, yuwalla ‘alaikum* (sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian)"
*[Ini adalah atsar Abu Ishaq As Sabi’iy, salah seorang ulama tabi’in asal Kufah yang terkenal sebagai ahli hadits dan ahli ibadah. Beliau lahir dua tahun menjelang berakhirnya kekhalifahan Utsman, dan wafat sekitar tahun 129 H. Keluasan ilmu beliau di bidang hadits disejajarkan dengan Imam Ibnu Syihab Az Zuhri]
Cobalah perhatikan kondisi masyarakat /rakyat..!
Para penguasa yang dzhalim merupakan hukuman yang ditimpakan Allah bagi kaum yang dzhalim pula, dikarenakan dosa-dosa yang mereka lakukan. Allah ta’ala berfirman,
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS Al An’aam 129)
Abul Walid Ath Thurthusyi rahimahullah berkata, “Jika engkau berkata bahwa para pemimpin di zaman ini tidak sama dengan para pemimpin di zaman dahulu, maka rakyat di zaman ini pun tidak sama dengan rakyat di zaman dahulu. Jika engkau mencela pemimpinmu bila dibandingkan dengan pemimpin dahulu maka pemimpinmu pun berhak mencelamu bila dibandingkan dengan rakyat dahulu. Maka apabila pemimpinmu menzalimimu hendaklah engkau bershabar dan dia yang akan menanggung dosanya..."
Oleh karena itu, berkuasanya penguasa yang dzhalim bukanlah penyakit riil dari umat ini, bahkan penyakit yang riil berasal dari rakyat yang berada di bawah kekuasaan penguasa tersebut.
Shahabat Ibnu ’Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghadap ke arah kami dan bersabda:
" يا معشر المهاجرين خصال خمس إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ : لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا. َلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ .وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا .وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ .وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ".
”Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya –dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menjumpainya-
Derajat Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (2/1332 no. 4019), Abu Nu’aim (8/333), al-Hakim (no. 8623) dan Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shahihah no. 106)
Jika ingin menyalahkan jeleknya kepemimpinan pemimpin, maka rakyatnyalah yang lebih dahulu mengintropeksi diri. Karena pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,
وتأمل حكمته تعالى في ان جعل ملوك العباد وأمراءهم وولاتهم من جنس اعمالهم بل كأن أعمالهم ظهرت في صور ولاتهم وملوكهم فإن ساتقاموا استقامت ملوكهم وإن عدلوا عدلت عليهم وإن جاروا جارت ملوكهم وولاتهم وإن ظهر فيهم المكر والخديعة فولاتهم كذلك وإن منعوا حقوق الله لديهم وبخلوا بها منعت ملوكهم وولاتهم ما لهم عندهم من الحق ونحلوا بها عليهم وإن اخذوا ممن يستضعفونه مالا يستحقونه في معاملتهم اخذت منهم الملوك مالا يستحقونه وضربت عليهم المكوس والوظائف وكلما يستخرجونه من الضعيف يستخرجه الملوك منهم بالقوة فعمالهم ظهرت في صور اعمالهم وليس في الحكمة الالهية ان يولى على الاشرار الفجار الا من يكون من جنسهم
Ibnul Qayyim berkata, “Perhatikanlah hikmah-Nya tatkala Dia menjadikan para raja, penguasa dan pemegang tampuk pemerintahan sesuai dengan amalan yang dilakukan oleh para rakyat di dalam negeri tersebut. Bahkan, amalan dari para rakyat akan tercermin dari tingkah laku para penguasanya.
Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum muslimin menjadi lebih baik, maka hendaklah setiap orang mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan mengubah penguasa yang ada. Hendaklah setiap orang mengubah dirinya yaitu dengan mengubah aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalahnya. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS Ar Ra’du: 11)
Saatnya introspeksi diri, tidak perlu rakyat selalu menyalahkan pemimpin atau presidennya. Semuanya itu bermula dari kesalahan rakyat itu sendiri. Jika mereka suka korupsi, begitulah keadaan pemimpin mereka. Jika mereka suka “suap”, maka demikian pula keadaan pemimpinnya. Jika mereka tidak peduli dengan agamanya, begitulah keadaan pemimpin mereka. Jika mereka bersikap munafik, maka demikian pula keadaan pemimpinnya. Jika mereka suka akan maksiat, demikianlah yang ada pada pemimpin mereka. Jika setiap rakyat memikirkan hal ini, maka tentu mereka tidak sibuk mengumbar aib penguasa di muka umum. Mereka malah akan sibuk memikirkan nasib mereka sendiri, merenungkan betapa banyak kesalahan dan dosa yang mereka perbuat.
Memohon kepada Allah, agar pemimpin kita diberi hidayah dan taufiq!
Kebiasaan semacam ini telah menjadi ciri ahlus-sunnah sejak masa silam. Meskipun bisa jadi ada pemimpin mereka yang zalim, mereka berusaha untuk tetap mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya.
Imam al-Barbahari mengatakan:
وإذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى وإذا سمعت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله
“Jika Anda melihat ada orang yang mendoakan keburukan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu (aqidahnya menyimpang). Dan jika Anda melihat ada orang yang mendoakan kebaikan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia Ahlus Sunah, insya Allah.” (Syarh as-Sunnah, Hal. 51)
Selanjutnya, al-Barbahari membawakan riwayat perkataan seorang ulama besar, Fudhail bin Iyadh rahimahullah, yang memberikan nasihat:
لو كان لي دعوة مستجابة ما جعلتها الا في السلطان
“Andaikan saya memiliki satu doa yang pasti terkabulkan, tidak akan aku ucapkan kecuali untuk mendoakan kebaikan pemimpin.”
Kemudian ada orang yang bertanya, mengapa harus demikian? Beliau menjawab:
إذا جعلتها في نفسي لم تعدني وإذا جعلتها في السلطان صلح فصلح بصلاحه العباد والبلاد فأمرنا أن ندعو لهم بالصلاح ولم نؤمر أن ندعو عليهم وإن جاروا وظلموا لأن جورهم وظلمهم على أنفسهم وصلاحهم لأنفسهم وللمسلمين
“Jika doa itu hanya untuk diriku, tidak akan kembali kepadaku. Namun jika aku panjatkan untuk kebaikan pemimpin, kemudian dia jadi baik, maka masyarakat dan negara akan menjadi baik. Kita diperintahkan untuk mendoakan kebaikan untuk mereka, dan kita tidak diperintahkan untuk mendoakan keburukan bagi mereka, meskipun mereka zalim. Karena kezaliman mereka akan ditanggung mereka sendiri, sementara kebaikan mereka akan kembali untuk mereka dan kaum muslimin.” (Syarh as-Sunnah, Hal. 51)
Wallahu Ta'ala a'lam
Dirangkum dari:
Jangan Maksiat dalam Memilih Pemimpin
SEGALA perintah Allah pasti baik dikerjakan. Segala larangan Allah pasti baik ditinggalkan. Karena Allah Subhanahu Wata’ala Maha Baik dan hidup sesuai aturan Allah adalah kebaikan.
Maka jangan bermaksiat kepada Allah dengan melanggar aturan Allah, karena itu adalah sumber keburukan. Keburukan akibat kemaksiatan yang dilakukan manusia tidak saja berdampak pada dirinya, bahkan batu, binatang, dan tumbuh-tumbuhan pun bisa merasakan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda:
“(Batu) Hajar Aswad turun dari surga dalam kondisi lebih putih dari air susu, kemudian dosa-dosa anak Adam menjadikannya kehitaman.” (HR Tarmizi).
Bahkan kata Imam Abu Aliyah Ar Riyah, “Kerusakan di muka bumi terjadi karena kemaksiatan. Langit dan bumi hanya menjadi baik karena ketaatan” (lihat Tafsir Ibnu Katsir QS Ar Rum: 41).
Tidak ada fakta dengan mencuri, meninggalkan sholat, zina, mabuk-mabukan, dan kemaksiatan lainnya lalu seseorang merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Tidak ada!
Oleh sebab itu, jangan maksiat memilih pemimpin. Apa bentuk kemaksiatan dalam memilih pemimpin itu? Disamping sistem Barat yang tidak islami, kemaksiatan memilih pemimpin itu adalah:
►PERTAMA, memberikan amanah kepemimpinan kepada orang yang tak layak memimpin. Allah Ta’la berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS An Nisa: 58)
Rasulullah bersabda:
مَنِ اسْتَعْمَلَ رَجُلاً عَلَى عَصَابَةٍ وَ فِيْهِمْ مَنْ هُوَ اَرْضَى اللهُ مِنْهُ فَقَدْ خَانَ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ وَ اْلمُؤْمِنِيْنَ. الحاكم
“Siapa yang mengangkat seseorang untuk mengelola urusan kaum Muslimin, lalu ia mengangkatnya, sementara pada saat yang sama dia mengetahui ada orang yang lebih layak dan sesuai daripada orang yg dipilihnya, maka dia telah BERKHIANAT kepada Allah dan Rasul-NYA.” (HR Al Hakim).
Jangan berkhianat dan bermaksiat kepada Allah dengan memilih pemimpin yang tak layak memimpin.
Imam Hasan Al Bashri mengingatkan, “Kalian diberi pemimpin seperti ini karena diri kalian sendiri. Pemimpin kalian adalah buah dari amalan kalian. Dan kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian.”(Kitab Kasyfu al Khafa, dikutip dari As Sunnah, Edisi 06, 2014).
►KEDUA, memilih pemimpin dari kalangan orang-orang kafir, atau dikelilingi dan didukung oleh orang-orang kafir, atau orang fasiq (pelaku dosa besar). Allah mengingatkan;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin.” (QS An Nisa: 144).
Buya HAMKA pernah berpesan, “Biar kalah asal tidak salah”. Tidak salah dalam arti tidak melabrak ajaran agama. Kalau ini komitmen kita bersama dalam memilih pemimpin, maka kebenaran takkan kalah. InsyaAllah. Wallahu A’lam.*/Lidus Yardi, aktivis Muhammadiyah Kuansing Riau
Inilah Kita..?
Jujur (& cenderung polos),merakyat (banget), sederhana (bin simple) dan suka baju kotak-kotak (terkotak-kotak)... dan memang JkwJk adalah Kita banget!
Ada lagi tambahan... ternyata "kita" suka banget sama hiburan... nyanyian, guyonan dan goyangan yang semuanya dapat "terpuaskan" oleh media-media TV yang ada di negeri ini. [Lalai, simple & males mikir ...EGP!]
"Sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian..."
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, keluarga dan sahabatnya.
Mengapa kita sering membicarakan kejelekan pemerintah, namun melupakan kejelekan pribadi? Mengapa kita selalu mencela penguasa, dan tak pernah mencela berbagai penyimpangan kita? Sebenarnya, pemerintah adalah cermin rakyatnya.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah ditanya oleh seseorang: “Mengapa saat Abu Bakar dan Umar menjabat sebagai khalifah kondisinya tertib, namun saat Utsman dan engkau yang menjadi khalifah kondisinya kacau?" Jawab Ali: “Karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku dan Utsman, namun saat Utsman dan aku yang menjadi khalifah, pendukungnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu”. (Syadzaraat Adz Dzhahab 1/51)
Jadi, ketika penguasa seenaknya mengeruk kekayaan negara dan memenjarakan rakyat tak berdosa, penyebabnya adalah dosa rakyat yang melalaikan kewajiban dan tenggelam dalam maksiat. Demikian pula ketika rakyat memberontak dan menjatuhkan si penguasa, itu pun akibat kesalahan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, loyal kepada orang kafir, tenggelam dalam foya-foya dan menelantarkan urusan negara.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah mengatakan dalam acara Liqa’ al-baabil maftuh, yaitu acara pertemuan antara beliau dengan masyarakat umum untuk tanya-jawab, yang diadakan di rumah beliau: "Waliyyul amr, baik dari kalangan ulama’ maupun umara’, pasti punya banyak kesalahan. Akan tetapi, dalam sebuah atsar disebutkan kamaa takuunuu, yuwalla ‘alaikum* (sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian)"
*[Ini adalah atsar Abu Ishaq As Sabi’iy, salah seorang ulama tabi’in asal Kufah yang terkenal sebagai ahli hadits dan ahli ibadah. Beliau lahir dua tahun menjelang berakhirnya kekhalifahan Utsman, dan wafat sekitar tahun 129 H. Keluasan ilmu beliau di bidang hadits disejajarkan dengan Imam Ibnu Syihab Az Zuhri]
Cobalah perhatikan kondisi masyarakat /rakyat..!
Para penguasa yang dzhalim merupakan hukuman yang ditimpakan Allah bagi kaum yang dzhalim pula, dikarenakan dosa-dosa yang mereka lakukan. Allah ta’ala berfirman,
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS Al An’aam 129)
Abul Walid Ath Thurthusyi rahimahullah berkata, “Jika engkau berkata bahwa para pemimpin di zaman ini tidak sama dengan para pemimpin di zaman dahulu, maka rakyat di zaman ini pun tidak sama dengan rakyat di zaman dahulu. Jika engkau mencela pemimpinmu bila dibandingkan dengan pemimpin dahulu maka pemimpinmu pun berhak mencelamu bila dibandingkan dengan rakyat dahulu. Maka apabila pemimpinmu menzalimimu hendaklah engkau bershabar dan dia yang akan menanggung dosanya..."
Oleh karena itu, berkuasanya penguasa yang dzhalim bukanlah penyakit riil dari umat ini, bahkan penyakit yang riil berasal dari rakyat yang berada di bawah kekuasaan penguasa tersebut.
Shahabat Ibnu ’Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghadap ke arah kami dan bersabda:
" يا معشر المهاجرين خصال خمس إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ : لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا. َلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ .وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا .وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ .وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ".
”Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya –dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menjumpainya-
- Tidaklah nampak zina di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya,
- Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan dan kedzhaliman penguasa atas mereka.
- Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka (hujan tidak turun), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.
- Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka; orang kafir) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki
- Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak berhukum dengan Kitabullah (al-Qur’an) dan mengambil yang terbaik dari apa-apa yang diturunkan oleh Allah (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka.”
Derajat Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (2/1332 no. 4019), Abu Nu’aim (8/333), al-Hakim (no. 8623) dan Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shahihah no. 106)
Jika ingin menyalahkan jeleknya kepemimpinan pemimpin, maka rakyatnyalah yang lebih dahulu mengintropeksi diri. Karena pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,
وتأمل حكمته تعالى في ان جعل ملوك العباد وأمراءهم وولاتهم من جنس اعمالهم بل كأن أعمالهم ظهرت في صور ولاتهم وملوكهم فإن ساتقاموا استقامت ملوكهم وإن عدلوا عدلت عليهم وإن جاروا جارت ملوكهم وولاتهم وإن ظهر فيهم المكر والخديعة فولاتهم كذلك وإن منعوا حقوق الله لديهم وبخلوا بها منعت ملوكهم وولاتهم ما لهم عندهم من الحق ونحلوا بها عليهم وإن اخذوا ممن يستضعفونه مالا يستحقونه في معاملتهم اخذت منهم الملوك مالا يستحقونه وضربت عليهم المكوس والوظائف وكلما يستخرجونه من الضعيف يستخرجه الملوك منهم بالقوة فعمالهم ظهرت في صور اعمالهم وليس في الحكمة الالهية ان يولى على الاشرار الفجار الا من يكون من جنسهم
Ibnul Qayyim berkata, “Perhatikanlah hikmah-Nya tatkala Dia menjadikan para raja, penguasa dan pemegang tampuk pemerintahan sesuai dengan amalan yang dilakukan oleh para rakyat di dalam negeri tersebut. Bahkan, amalan dari para rakyat akan tercermin dari tingkah laku para penguasanya.
- Apabila rakyat di dalam negeri tersebut komitmen dalam menjalankan syari’at, maka tentu penguasanya pun demikian.
- Apabila mereka berlaku adil, maka para penguasa akan berlaku adil kepada mereka.
- Apabila mereka suka berbuat kemaksiatan, maka para penguasa juga akan senantiasa berbuat maksiat.
- Apabila rakyat senantiasa berbuat makar dan tipu daya, maka tentulah penguasa demikian pula keadaannya.
- Apabila para rakyat tidak menunaikan hak-hak Allah serta mengabaikannya, maka penguasa mereka pun juga akan berbuat hal yang sama, mereka akan melanggar dan tidak menunaikan hak-hak para rakyatnya.
- Apabila rakyat sering melanggar hak kaum yang lemah dalam berbagai interaksi mereka, maka para penguasa akan melanggar hak para rakyatnya secara paksa, menetapkan berbagai pajak dan pungutan liar kepada mereka. Dan setiap mereka (yakni rakyat) mengambil hak kaum yang lemah, maka hak mereka pun akan diambil secara paksa oleh para penguasa. Sehingga para penguasa merupakan cerminan amal dari para rakyatnya.”
Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum muslimin menjadi lebih baik, maka hendaklah setiap orang mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan mengubah penguasa yang ada. Hendaklah setiap orang mengubah dirinya yaitu dengan mengubah aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalahnya. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS Ar Ra’du: 11)
Saatnya introspeksi diri, tidak perlu rakyat selalu menyalahkan pemimpin atau presidennya. Semuanya itu bermula dari kesalahan rakyat itu sendiri. Jika mereka suka korupsi, begitulah keadaan pemimpin mereka. Jika mereka suka “suap”, maka demikian pula keadaan pemimpinnya. Jika mereka tidak peduli dengan agamanya, begitulah keadaan pemimpin mereka. Jika mereka bersikap munafik, maka demikian pula keadaan pemimpinnya. Jika mereka suka akan maksiat, demikianlah yang ada pada pemimpin mereka. Jika setiap rakyat memikirkan hal ini, maka tentu mereka tidak sibuk mengumbar aib penguasa di muka umum. Mereka malah akan sibuk memikirkan nasib mereka sendiri, merenungkan betapa banyak kesalahan dan dosa yang mereka perbuat.
Memohon kepada Allah, agar pemimpin kita diberi hidayah dan taufiq!
Kebiasaan semacam ini telah menjadi ciri ahlus-sunnah sejak masa silam. Meskipun bisa jadi ada pemimpin mereka yang zalim, mereka berusaha untuk tetap mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya.
Imam al-Barbahari mengatakan:
وإذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى وإذا سمعت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله
“Jika Anda melihat ada orang yang mendoakan keburukan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu (aqidahnya menyimpang). Dan jika Anda melihat ada orang yang mendoakan kebaikan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia Ahlus Sunah, insya Allah.” (Syarh as-Sunnah, Hal. 51)
Selanjutnya, al-Barbahari membawakan riwayat perkataan seorang ulama besar, Fudhail bin Iyadh rahimahullah, yang memberikan nasihat:
لو كان لي دعوة مستجابة ما جعلتها الا في السلطان
“Andaikan saya memiliki satu doa yang pasti terkabulkan, tidak akan aku ucapkan kecuali untuk mendoakan kebaikan pemimpin.”
Kemudian ada orang yang bertanya, mengapa harus demikian? Beliau menjawab:
إذا جعلتها في نفسي لم تعدني وإذا جعلتها في السلطان صلح فصلح بصلاحه العباد والبلاد فأمرنا أن ندعو لهم بالصلاح ولم نؤمر أن ندعو عليهم وإن جاروا وظلموا لأن جورهم وظلمهم على أنفسهم وصلاحهم لأنفسهم وللمسلمين
“Jika doa itu hanya untuk diriku, tidak akan kembali kepadaku. Namun jika aku panjatkan untuk kebaikan pemimpin, kemudian dia jadi baik, maka masyarakat dan negara akan menjadi baik. Kita diperintahkan untuk mendoakan kebaikan untuk mereka, dan kita tidak diperintahkan untuk mendoakan keburukan bagi mereka, meskipun mereka zalim. Karena kezaliman mereka akan ditanggung mereka sendiri, sementara kebaikan mereka akan kembali untuk mereka dan kaum muslimin.” (Syarh as-Sunnah, Hal. 51)
Wallahu Ta'ala a'lam
Dirangkum dari:
- http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/3189-pemimpin-cerminan-dari-rakyatnya.html
- http://muslim.or.id/manhaj/diagnosis-terhadap-penyakit-umat.html
- http://www.konsultasisyariah.com/kpk-dan-negeri-koruptor-sebuah-nasihat/#axzz28nRYFdz1
- http://cintasunnah.com/berpegang-kepada-jamaah-kaum-muslimin-dan-pemimpinnya/
- http://muslimafiyah.com/banjir-sebaiknya-jangan-cari-kambing-hitam-apalagi-pemimpingubernur.html
- http://basweidan.com/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1/
Jangan Maksiat dalam Memilih Pemimpin
SEGALA perintah Allah pasti baik dikerjakan. Segala larangan Allah pasti baik ditinggalkan. Karena Allah Subhanahu Wata’ala Maha Baik dan hidup sesuai aturan Allah adalah kebaikan.
Maka jangan bermaksiat kepada Allah dengan melanggar aturan Allah, karena itu adalah sumber keburukan. Keburukan akibat kemaksiatan yang dilakukan manusia tidak saja berdampak pada dirinya, bahkan batu, binatang, dan tumbuh-tumbuhan pun bisa merasakan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda:
“(Batu) Hajar Aswad turun dari surga dalam kondisi lebih putih dari air susu, kemudian dosa-dosa anak Adam menjadikannya kehitaman.” (HR Tarmizi).
Bahkan kata Imam Abu Aliyah Ar Riyah, “Kerusakan di muka bumi terjadi karena kemaksiatan. Langit dan bumi hanya menjadi baik karena ketaatan” (lihat Tafsir Ibnu Katsir QS Ar Rum: 41).
Tidak ada fakta dengan mencuri, meninggalkan sholat, zina, mabuk-mabukan, dan kemaksiatan lainnya lalu seseorang merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Tidak ada!
Oleh sebab itu, jangan maksiat memilih pemimpin. Apa bentuk kemaksiatan dalam memilih pemimpin itu? Disamping sistem Barat yang tidak islami, kemaksiatan memilih pemimpin itu adalah:
►PERTAMA, memberikan amanah kepemimpinan kepada orang yang tak layak memimpin. Allah Ta’la berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS An Nisa: 58)
Rasulullah bersabda:
مَنِ اسْتَعْمَلَ رَجُلاً عَلَى عَصَابَةٍ وَ فِيْهِمْ مَنْ هُوَ اَرْضَى اللهُ مِنْهُ فَقَدْ خَانَ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ وَ اْلمُؤْمِنِيْنَ. الحاكم
“Siapa yang mengangkat seseorang untuk mengelola urusan kaum Muslimin, lalu ia mengangkatnya, sementara pada saat yang sama dia mengetahui ada orang yang lebih layak dan sesuai daripada orang yg dipilihnya, maka dia telah BERKHIANAT kepada Allah dan Rasul-NYA.” (HR Al Hakim).
Jangan berkhianat dan bermaksiat kepada Allah dengan memilih pemimpin yang tak layak memimpin.
Imam Hasan Al Bashri mengingatkan, “Kalian diberi pemimpin seperti ini karena diri kalian sendiri. Pemimpin kalian adalah buah dari amalan kalian. Dan kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian.”(Kitab Kasyfu al Khafa, dikutip dari As Sunnah, Edisi 06, 2014).
►KEDUA, memilih pemimpin dari kalangan orang-orang kafir, atau dikelilingi dan didukung oleh orang-orang kafir, atau orang fasiq (pelaku dosa besar). Allah mengingatkan;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin.” (QS An Nisa: 144).
Buya HAMKA pernah berpesan, “Biar kalah asal tidak salah”. Tidak salah dalam arti tidak melabrak ajaran agama. Kalau ini komitmen kita bersama dalam memilih pemimpin, maka kebenaran takkan kalah. InsyaAllah. Wallahu A’lam.*/Lidus Yardi, aktivis Muhammadiyah Kuansing Riau
Inilah Kita..?
Jujur (& cenderung polos),
Ada lagi tambahan... ternyata "kita" suka banget sama hiburan... nyanyian, guyonan dan goyangan yang semuanya dapat "terpuaskan" oleh media-media TV yang ada di negeri ini. [Lalai, simple & males mikir ...EGP!]
Wajib baca:
Akhir Zaman?
Muhammad s.a.w. Nabi Akhir Zaman yang dikhabarkan dan dijanjikan sebelumnya...
Fase-fase Akhir Zaman
"Masa kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, lalu Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian, selama beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, lalu Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa raja-raja yang menggigit selama beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, lalu Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa raja-raja yang memaksakan kehendak dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan ada lagi kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian. Kemudian Beliau terdiam..." (HR Ahmad)
Dengan merujuk kepada hadits di atas, maka fase-fase akhir zaman adalah sebagai berikut:
- Masa Kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam
- Masa Kekhalifahan yang mengikuti manhaj kenabian (Berakhir tahun 1924?)
-
Masa keemasan Islam, masa peletakan dasar-dasar peradaban & ilmu pengetahuan Akhir Zaman:
-
Masa keemasan Islam, masa peletakan dasar-dasar peradaban & ilmu pengetahuan Akhir Zaman:
- Masa para Raja (Penguasa) yang "menggigit"
- Masa para Raja (Penguasa) yang memaksakan kehendak
- Masa terulangnya kembali kekhalifahan yang mengikuti manhaj kenabian.
- Kiamat?
Sekarang?
(Muslim sebagai Object bukan Subject...)
Dari Tsauban, dia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hampir tiba bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak (bersekongkol) untuk memerangi kalian sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka". Seorang sahabat bertanya: "Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih (sampah) banjir dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut (gentar) terhadap kalian dan menimpakan ke dalam hati-hati kalian wahn (kelemahan)", lalu bertanya lagi: "Wahai Rasulullah apakah wahn (kelemahan) itu?", Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Cinta dunia dan takut mati"" (HR Abu Dawud dan Ahmad)
![]() |
Marhaban Yaa Ramadhan!
Karena kita tidak sendirian..!
Saudaraku...
Baca juga:
Agar Kita Turut Merasakan Indahnya Ramadhan (1) & (2)
Saudaraku...
- Diutamakan mengakhirkan makan sahur di akhir waktunya, selama tidak khawatir akan terbitnya fajar. Berdasarkan hadits yang marfu’ dari Abu Dzar, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka” (HR Ahmad, sanadnya dha’if). Sedangkan dari hadits Anas bin Malik, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, “Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kami berdiri untuk mengerjakan shalat.” Anas berkata, “Aku berkata kepada Zaid, ‘Berapa rentang waktu antara adzan dan sahur?’ Zaid menjawab, ‘Kira-kira 50 ayat’” (Muttafaqun ‘alaih).
- "Panggilan" untuk membangunkan akan lebih baik jika diganti dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran (dan terjemahannya). Pilihlah ayat-ayat atau surat yang bisa menambah keimanan kepada Allah ta'ala dan kebanggan kita terhadap Al Islam.
- Volume suara speaker masjid atau mushalla diatur sedemikian rupa sehingga kualitas suaranya baik, tidak pecah, tidak cempreng dan tidak terlalu keras. Sound system masjid atau mushalla lebih baik tidak menggunakan echo, dan kalaupun memakai efek echo (gema/pantul) disarankan untuk mengaturnya sehingga kualitas suara yang keluar dari speaker bisa terdengar dengan baik dan jelas. Saya pernah shalat Jum'at (Jum'atan) di suatu daerah yang suara speaker di masjid tersebut memakai efek echo yang berlebihan sehingga saya perlu konsentrasi ekstra pada saat menyimak dan memahami materi khutbah Jum'at tersebut.
- Materi (kalimat) yang disampaikan lewat speaker (pengeras suara) untuk moment tertentu seharusnya sudah baku dan sudah menjadi bagian dari manajemen masjid. Misalkan untuk membangunkan warga untuk makan sahur, kalimat dan jadwalnya sudah diatur sehingga syiar yang dibangun lewat masjid atau mushalla bisa lebih baik, efektif dan maksimal.
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Ya.. Rabb! Jangan masukkan kami kepada golongan ini...
“Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memperoleh lapar dan dahaga.”
(HR Ibnu Majah)
(HR Ibnu Majah)
Baca juga:
Agar Kita Turut Merasakan Indahnya Ramadhan (1) & (2)
(HSH) Ramadhan 1433H Family Schedule...
Marhaban yaa Ramadhan!
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR Ath Thabraniy)
Ramadhan 1433 Family Schedule
1. SAHUR...
2. SELAMA RAMADHAN...
3. BERBUKA...
4. TIDUR LEBIH AWAL!!!
Ini adalah tips ampuh agar selama berpuasa di siang hari tidak mengantuk. Karena rumus ngantuk adalah kurang tidur!
5. REVIEW!
Istilah:
☻Tarowih (jama’ dari tarwihah) berasal dari kata roha, artinya "istirahat".
Maksudnya (sejarahnya), pelaksanaan shalat sunnah di malam-malam bulan ramadhan itu sering diselingi istirahat (santai) diantara raka'at-raka'atnya yang panjang atau di antara rakaat-rakaatnya yang banyak. Ada juga yang mengartikan arti tarawih ini adalah istirahat sejenak seusai shalat Isya dan shalat sunnah ba’da Isya.
☻Imsak?
Tidak ada istilah imsak (menahan makan, minum dan hal yang membatalkan puasa, 10 menit sebelum adzan subuh) dalam syari'at Islam!
☻Zakat Fitrah
Dari shahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithrah berupa satu shaa’ kurma atau gandum (makanan pokok yang biasa dimakan setiap hari)". (HR Bukhari dan Muslim)
InsyaAllah wallahu'alamu
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR Ath Thabraniy)
Ramadhan 1433 Family Schedule
1. SAHUR...
- Bangun Tidur, Do'a bangun tidur dan Niat untuk berpuasa.
- Minum air 1 gelas.
- Qiyamullail +Witir!
- …
- Makan Sahur. Saat yang mustajab dan ada keberkahan di dalamnya!
Perbanyak do'a, dzikir dan istighfar! - Setelah makan Sahur & minum secukupnya, bersiwak/sikat gigi. (Catatan: menyikat gigi di pagi hari/menjelang siang hari tidak membatalkan puasa, hanya perlu kehati-hatian!)
- Shalat Subuh.
2. SELAMA RAMADHAN...
- Shalat & Qiyamullail (tarawih/tahajud/witir), perbanyak berinteraksi dengan Quran, Shadaqah, I'tikaf dan menghidupkan malam Lailatul Qadar, perbanyak do'a/dzikir (pagi-petang)/istighfar...
- Daripada melakukan hal yang dapat mengurangi pahala puasa lebih baik tidur. Adapun hadits yang menyatakan "Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah" adalah lemah dan sebagian ahli hadits menyatakan palsu.
- Kurangi atau tidak nonton TV!
- …
- Dari 'Aisyah, ia berkata: Wahai Rasulullah, jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca? Beliau menjawab, "Ucapkan:
اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni
'Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, menyukai pemberian maaf maka ampunilah aku'." (HR Ahmad dan al-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani)
3. BERBUKA...
- Menjelang Berbuka, Mandi sore!
- Berdo'a saat berbuka!
"Ada tiga do'a yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, do'anya pemimpin yang adil dan do'anya orang yang terzhalimi” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban) - Berbuka dengan makan kurma (jumlah ganjil) serta makanan berbuka lainnya secukupnya. (Saran: Jangan minum es..! karena akan merasa haus terus dan kenyang karena minum ...biasanya anak-anak yang suka begini).
- Shalat Maghrib.
- Makan.
- Shalat Isya dan Tarawih!
4. TIDUR LEBIH AWAL!!!
Ini adalah tips ampuh agar selama berpuasa di siang hari tidak mengantuk. Karena rumus ngantuk adalah kurang tidur!
- Maksimal pukul 09.00 malam, supaya bangun pagi tidak payah dan siangnya tidak ngantuk.
- Terkecuali untuk sepuluh malam terakhir?!!
5. REVIEW!
- AQIDAH shahihah dan TAUHID!
- WUDHU dan SHALAT!
- Kalau ada yang kurang faham, tanya atau cari tahu!
- Bagaimana Salaf di Bulan Ramadhan?
Istilah:
☻Tarowih (jama’ dari tarwihah) berasal dari kata roha, artinya "istirahat".
Maksudnya (sejarahnya), pelaksanaan shalat sunnah di malam-malam bulan ramadhan itu sering diselingi istirahat (santai) diantara raka'at-raka'atnya yang panjang atau di antara rakaat-rakaatnya yang banyak. Ada juga yang mengartikan arti tarawih ini adalah istirahat sejenak seusai shalat Isya dan shalat sunnah ba’da Isya.
☻Imsak?
Tidak ada istilah imsak (menahan makan, minum dan hal yang membatalkan puasa, 10 menit sebelum adzan subuh) dalam syari'at Islam!
☻Zakat Fitrah
Dari shahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithrah berupa satu shaa’ kurma atau gandum (makanan pokok yang biasa dimakan setiap hari)". (HR Bukhari dan Muslim)
1 shaa’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 480 mitsqal dari biji gandum yang baik atau setara dengan 2,040 kg atau setara dengan 3,5 liter beras (menurut kesepakatan para ulama).
InsyaAllah wallahu'alamu
1 Syawal 1432H berdasarkan Hisab dan Rukyah kemungkinan Berbeda
Dari informasi yang kita terima dan kita baca akhir-akhir ini, kemungkinan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432H ada perbedaan penetapan. Hal ini disebabkan ketinggian bulan (moon altitude) pada tanggal 29 Agustus kurang dari 2 derajat sehingga tak memungkinkan hilal terlihat dengan mata telanjang.
Apa sih yang dimaksud dengan informasi di atas tersebut? Sekarang mari kita sedikit belajar bersama-sama tentang ilmu hisab atau astronomi ini. Tapi sebelum melangkah lebih jauh silahkan download dulu program MoonTools for Windows di artikel Perhitungan Matahari dan Bulan dengan SunMoon atau Perhitungan Matahari dan Bulan-Astronomical Algorithms.

Konjungsi atau Ijtimak atau bulan baru (new moon) akan terjadi pada Senin 29 Agustus 2011 pukul 10:05:14 WIB (wilayah Surabaya). Coba stop auto timer [no.1] dan set jam secara manual sampai umur bulan (age of moon) menjadi 0 (ijtimak) [no.2].

Pada tanggal 29 Agustus tersebut Matahari terbenam (sunset) pukul 17:28:39 WIB (wilayah Surabaya)[no.3]. Set manual jam menjadi 17:28:39 [no.4] dan di situ ketinggian bulan (moon altitude) menunjukkan 1° 3′ 47″ [no.5]. Pada kondisi ini, secara astronomis hilal mustahil dapat di-rukyah atau hilal tidak akan terlihat.
Sekarang mari kita cek visibilitas (penampakan) Hilal pada hari terjadinya Ijtimak selepas Matahari terbenam di seluruh dunia. Kita bisa menggunakan software Accurate Times buatan Mohammad Odeh dengan mengunakan kriteria Odeh (adopsi Limit Danjon sebesar 6° untuk syarat ketinggian hilal agar terlihat dengan mata telanjang).

atau kriteria SAAO yang lebih rendah lagi.

Lihat kedua gambar di atas. Arsiran warna hijau merupakan daerah yang bisa melihat hilal pada saat itu (29/8). Dan wilayah Indonesia merupakan daerah yang mustahil melihat hilal walaupun menggunakan teropong.
Itulah sedikit gambaran informasi tentang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H yang menyebutkan bahwa tanggal 29 Agustus 2011 Hilal belum terlihat karena ketinggian bulan masih dibawah 2 derajat.
1 Syawal 1432H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda
Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H ini besar kemungkinan akan mengalami perbedaan. Pemerintah (Isbat) yang diperkirakan menetapkan 1 Syawwal 1432 H jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011 berbeda dengan keputusan Muhammadiyah yang sejak awal menetapkan 1 Syawwal jatuh pada Selasa, 30 Agustus 2011. Sedangkan NU, Persis dipastikan akan mengikuti keputusan pemerintah yaitu berlebaran pada Rabu, 31 Agustus 2011 karena kriteria yang mereka pergunakan menghasilkan kesimpulan yang sama dengan pemerintah.
Apa yang menyebabkan perbedaan tersebut?
Sekarang mari kita ulas satu persatu kriteria yang digunakan untuk menentukan Hilal.
Rukyat Hilal (Visibilitas Hilal)
Melihat lokasi Indonesia menurut peta visibilitas hilal di atas, maka seluruh wilayah Indonesia mustahil dapat menyaksikan hilal pada hari pertama ijtimak sore setelah Matahari terbenam (29/8). Dengan mata telanjang, Hilal baru mungkin dirukyat pada hari kedua ijtimak (30/8). Dengan demikian maka diberlakukan ISTIKMAL sehingga 1 Syawal 1432H akan jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011.
Hisab Imkanur Rukyat
Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada Kalender Islam negara-negara tersebut.
Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:
Menurut Peta Ketinggian Hilal tersebut, pada hari pertama ijtimak syarat Imkanurrukyat MABIMS belum terpenuhi. Dengan demikian diberlakukan ISTIKMAL sehingga 1 Syawal 1432H jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011.
Hisab Wujudul Hilal
Kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah menyatakan bahwa: “Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam”. Berdasarkan posisi hilal saat matahari terbenam di beberapa bagian wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal sudah terpenuhi. Maka 1 Syawal 1432H ditetapkan jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011.
Kalender Hijriyah Global
Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi 180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).
Pada hari pertama ijtimak zone Barat maupun zone Timur belum masuk dalam kriteria Limit Danjon. Dengan demikian 1 Syawal 1432H di masing-masing zona akan jatuh pada: Zona Timur hari Selasa, 30 Agustus 2011 dan Zona Barat hari Rabu, 31 Agustus 2011.
Rukyat Hilal Saudi
Kurangnya pemahaman terhadap perkembangan dan modernisasi ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut “Hilal” baik yang “sengaja salah” maupun yang tidak disengaja. Klaim terhadap penampakan hilal oleh seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah “limit visibilitas” atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi. Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan sidang istbat terhadap laporan rukyat yang “kontroversi” tersebut.
Kalender resmi Saudi yang dinamakan “Ummul Qura” yang telah berkali-kali mengganti kriterianya hanya diperuntukkan sebagai kalender untuk kepentingan non ibadah. Sementara untuk ibadah Saudi tetap menggunakan rukyat hilal sebagai dasar penetapannya. Sayangnya penetapan ini sering hanya berdasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap kebenaran laporan tersebut apakah sudah sesuai dengan kaidah-kaidah sains astronomi modern yang diketahui memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi.
Menurut Kalender Ummul Qura’
Kalender ini digunakan Saudi bagi kepentingan publik non ibadah. Kriteria yang digunakan adalah “Telah terjadi ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah” maka sore itu dinyatakan sebagai awal bulan baru. Pada hari pertama ijtimak/konjungsi kondisinya sudah memenuhi syarat. Dengan demikian 1 Syawal 1432H akan jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011.
Menurut Kriteria Rukyatul Hilal Saudi
Rukyatul hilal digunakan Saudi khusus untuk penentuan bulan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Kaidahnya sederhana “Jika ada laporan rukyat dari seorang atau lebih pengamat/saksi yang dianggap jujur dan bersedia disumpah maka sudah cukup sebagai dasar untuk menentukan awal bulan tanpa perlu perlu dilakukan uji sains terhadap kebenaran laporan tersebut”.
Melihat posisi Hilal, mustahil rukyat di Saudi pada hari pertama ijtimak Namun demikian jika ada yang mengaku berhasil maka 1 Syawal 1432H akan jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011.
Namun jika laporan rukyat gagal (harusnya) maka awal bulan akan jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011.
Awal Bulan Negara-negara Lain.
Seperti kita ketahui secara resmi Indonesia bersama Malaysia, Brunei dan Singapura lewat pertemuan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) telah menyepakati sebuah kriteria bagi penetapan awal bulan Komariyahnya yang dikenal dengan “Kriteria Imkanurrukyat MABIMS” yaitu umur bulan > 8 jam, tinggi bulan > 2° dan elongasi > 3°. Belakangan ternyata kriteria ini hanya digunakan oleh Indonesia dan Malaysia.
Menurut catatan Moonsighting Committee Worldwide ternyata penetapan awal bulan ini berbeda-beda di tiap-tiap negara. Ada yang masih teguh mempertahankan rukyat bil fi’li ada pula yang mulai beralih menggunakan hisab atau kalkulasi. Berikut ini beberapa gambaran penetapan awal bulan Komariyah yang resmi digunakan di beberapa negara:
Pustaka:
- Islamic Crescents’ Observation Project
- Rukyatul Hilal Indonesia
Sumber: http://ariefew.com/programming/1-syawal-1432-berdasarkan-hisab-rukyah-beda/
Apa sih yang dimaksud dengan informasi di atas tersebut? Sekarang mari kita sedikit belajar bersama-sama tentang ilmu hisab atau astronomi ini. Tapi sebelum melangkah lebih jauh silahkan download dulu program MoonTools for Windows di artikel Perhitungan Matahari dan Bulan dengan SunMoon atau Perhitungan Matahari dan Bulan-Astronomical Algorithms.

Konjungsi atau Ijtimak atau bulan baru (new moon) akan terjadi pada Senin 29 Agustus 2011 pukul 10:05:14 WIB (wilayah Surabaya). Coba stop auto timer [no.1] dan set jam secara manual sampai umur bulan (age of moon) menjadi 0 (ijtimak) [no.2].

Pada tanggal 29 Agustus tersebut Matahari terbenam (sunset) pukul 17:28:39 WIB (wilayah Surabaya)[no.3]. Set manual jam menjadi 17:28:39 [no.4] dan di situ ketinggian bulan (moon altitude) menunjukkan 1° 3′ 47″ [no.5]. Pada kondisi ini, secara astronomis hilal mustahil dapat di-rukyah atau hilal tidak akan terlihat.
Sekarang mari kita cek visibilitas (penampakan) Hilal pada hari terjadinya Ijtimak selepas Matahari terbenam di seluruh dunia. Kita bisa menggunakan software Accurate Times buatan Mohammad Odeh dengan mengunakan kriteria Odeh (adopsi Limit Danjon sebesar 6° untuk syarat ketinggian hilal agar terlihat dengan mata telanjang).

atau kriteria SAAO yang lebih rendah lagi.

Lihat kedua gambar di atas. Arsiran warna hijau merupakan daerah yang bisa melihat hilal pada saat itu (29/8). Dan wilayah Indonesia merupakan daerah yang mustahil melihat hilal walaupun menggunakan teropong.
Itulah sedikit gambaran informasi tentang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H yang menyebutkan bahwa tanggal 29 Agustus 2011 Hilal belum terlihat karena ketinggian bulan masih dibawah 2 derajat.
1 Syawal 1432H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda
Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H ini besar kemungkinan akan mengalami perbedaan. Pemerintah (Isbat) yang diperkirakan menetapkan 1 Syawwal 1432 H jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011 berbeda dengan keputusan Muhammadiyah yang sejak awal menetapkan 1 Syawwal jatuh pada Selasa, 30 Agustus 2011. Sedangkan NU, Persis dipastikan akan mengikuti keputusan pemerintah yaitu berlebaran pada Rabu, 31 Agustus 2011 karena kriteria yang mereka pergunakan menghasilkan kesimpulan yang sama dengan pemerintah.
Apa yang menyebabkan perbedaan tersebut?
Sekarang mari kita ulas satu persatu kriteria yang digunakan untuk menentukan Hilal.
Rukyat Hilal (Visibilitas Hilal)
Melihat lokasi Indonesia menurut peta visibilitas hilal di atas, maka seluruh wilayah Indonesia mustahil dapat menyaksikan hilal pada hari pertama ijtimak sore setelah Matahari terbenam (29/8). Dengan mata telanjang, Hilal baru mungkin dirukyat pada hari kedua ijtimak (30/8). Dengan demikian maka diberlakukan ISTIKMAL sehingga 1 Syawal 1432H akan jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011.
Hisab Imkanur Rukyat
Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada Kalender Islam negara-negara tersebut.
Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:
- Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan
- Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau
- Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.
Menurut Peta Ketinggian Hilal tersebut, pada hari pertama ijtimak syarat Imkanurrukyat MABIMS belum terpenuhi. Dengan demikian diberlakukan ISTIKMAL sehingga 1 Syawal 1432H jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011.
Hisab Wujudul Hilal
Kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah menyatakan bahwa: “Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam”. Berdasarkan posisi hilal saat matahari terbenam di beberapa bagian wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal sudah terpenuhi. Maka 1 Syawal 1432H ditetapkan jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011.
Kalender Hijriyah Global
Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi 180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).
Pada hari pertama ijtimak zone Barat maupun zone Timur belum masuk dalam kriteria Limit Danjon. Dengan demikian 1 Syawal 1432H di masing-masing zona akan jatuh pada: Zona Timur hari Selasa, 30 Agustus 2011 dan Zona Barat hari Rabu, 31 Agustus 2011.
Rukyat Hilal Saudi
Kurangnya pemahaman terhadap perkembangan dan modernisasi ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut “Hilal” baik yang “sengaja salah” maupun yang tidak disengaja. Klaim terhadap penampakan hilal oleh seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah “limit visibilitas” atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi. Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan sidang istbat terhadap laporan rukyat yang “kontroversi” tersebut.
Kalender resmi Saudi yang dinamakan “Ummul Qura” yang telah berkali-kali mengganti kriterianya hanya diperuntukkan sebagai kalender untuk kepentingan non ibadah. Sementara untuk ibadah Saudi tetap menggunakan rukyat hilal sebagai dasar penetapannya. Sayangnya penetapan ini sering hanya berdasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap kebenaran laporan tersebut apakah sudah sesuai dengan kaidah-kaidah sains astronomi modern yang diketahui memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi.
| Diagram ketinggian Hilal di Mekkah pada hari pertama ijtimak. |
Menurut Kalender Ummul Qura’
Kalender ini digunakan Saudi bagi kepentingan publik non ibadah. Kriteria yang digunakan adalah “Telah terjadi ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah” maka sore itu dinyatakan sebagai awal bulan baru. Pada hari pertama ijtimak/konjungsi kondisinya sudah memenuhi syarat. Dengan demikian 1 Syawal 1432H akan jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011.
Menurut Kriteria Rukyatul Hilal Saudi
Rukyatul hilal digunakan Saudi khusus untuk penentuan bulan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Kaidahnya sederhana “Jika ada laporan rukyat dari seorang atau lebih pengamat/saksi yang dianggap jujur dan bersedia disumpah maka sudah cukup sebagai dasar untuk menentukan awal bulan tanpa perlu perlu dilakukan uji sains terhadap kebenaran laporan tersebut”.
Melihat posisi Hilal, mustahil rukyat di Saudi pada hari pertama ijtimak Namun demikian jika ada yang mengaku berhasil maka 1 Syawal 1432H akan jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011.
Namun jika laporan rukyat gagal (harusnya) maka awal bulan akan jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011.
Awal Bulan Negara-negara Lain.
Seperti kita ketahui secara resmi Indonesia bersama Malaysia, Brunei dan Singapura lewat pertemuan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) telah menyepakati sebuah kriteria bagi penetapan awal bulan Komariyahnya yang dikenal dengan “Kriteria Imkanurrukyat MABIMS” yaitu umur bulan > 8 jam, tinggi bulan > 2° dan elongasi > 3°. Belakangan ternyata kriteria ini hanya digunakan oleh Indonesia dan Malaysia.
Menurut catatan Moonsighting Committee Worldwide ternyata penetapan awal bulan ini berbeda-beda di tiap-tiap negara. Ada yang masih teguh mempertahankan rukyat bil fi’li ada pula yang mulai beralih menggunakan hisab atau kalkulasi. Berikut ini beberapa gambaran penetapan awal bulan Komariyah yang resmi digunakan di beberapa negara:
- Rukyatul Hilal berdasarkan kesaksian Perukyat (Qadi) serta dilakukan pengkajian ulang terhadap hasil rukyat secara ilmiah antara lain dilakukan oleh negara-negara : Banglades, India, Pakistan, Oman, Maroko, Trinidad dan Brunei Darussalam.
- Hisab dengan kriteria bulan terbenam setelah Matahari dengan diawali ijtimak terlebih dahulu (moonset after sunset). Kriteria ini digunakan oleh Saudi Arabia pada kalender Ummul Qura namun khusus untuk Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah menggunakan pedoman rukyat.
- Mengikuti Saudi Arabia misalnya negara: Qatar, Kuwait, Emirat Arab, Bahrain, Yaman dan Turki, Iraq, Yordania, Palestina, Libanon dan Sudan.
- Hisab bulan terbenam minimal 5 menit setelah matahari terbenam dan terjadi setelah ijtimak digunakan oleh Mesir.
- Menunggu berita dari negeri tetangga –> diadopsi oleh Selandia Baru mengikuti Australia dan Suriname mengikuti negara Guyana.
- Mengikuti negara Muslim yang pertama kali berhasil rukyat –> Kepulauan Karibia
- Hisab dengan kriteria umur bulan, ketinggian bulan atau selisih waktu terbenamnya bulan dan matahari –> diadopsi oleh Algeria, Turki, Tunisia dan Malaysia.
- Ijtimak Qablal Fajr atau terjadinya ijtimak sebelum fajar diadopsi oleh negara Libya.
- Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam di Makkah dan bulan terbenam sesudah matahari terbenam di Makkah –> diadopsi oleh komunitas muslim di Amerika Utara dan Eropa (ISNA)
- Nigeria dan beberapa negara lain tidak tetap menggunakan satu kriteria dan berganti dari tahun ke tahun
- Menggunakan Rukyat Mata Telanjang: Namibia, Angola, Zimbabwe, Zambia, Mozambique, Botswana, Swaziland dan Lesotho.
- Jamaah Bohra, Ismailiyah, serta beberapa jamaah (tarekat) lainnya masih menggunakan hisab urfi yang sangat sederhana.
Pustaka:
- Islamic Crescents’ Observation Project
- Rukyatul Hilal Indonesia
Sumber: http://ariefew.com/programming/1-syawal-1432-berdasarkan-hisab-rukyah-beda/
Catatan saya:
Agama adalah Mudah dan Kebenaran adalah Sederhana...
"Janganlah kalian bershaum hingga kalian melihat al-hilâl, dan janganlah kalian ber’idul-fitri hingga kalian melihatnya. Jika kalian terhalangi (oleh mendung, debu, atau yang lainnya) maka tentukan/perkirakanlah untuknya.” [HR Al-Bukhari, Muslim dan An-Nasâ’i]
“Satu bulan itu dua puluh sembilan hari. Maka janganlah kalian memulai ibadah shaum sampai kalian melihat al-hilâl, dan janganlah kalian ber’idul fitri sampai kalian melihatnya. Jika terhalang atas kalian maka sempurnakanlah bilangan (bulan menjadi) tiga puluh (hari).” [HR Al-Bukhâri]
“Berpuasalah kalian berdasarkan ru`yatul (melihat) hilaal dan ber’idul-fitrilah kalian berdasarkan ru`yatul hilaal. Apabila (al-hilal) terhalangi (mendung) atas kalian, maka tentukanlah untuk (bulan tersebut menjadi) 30 hari”. [HR Muslim]
Ibnu Mas'ud meriwayatkan: "Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, 'Ini jalan Allah yang lurus'. Lalu beliau membuat garis-garis di kanan-kirinya, kemudian bersabda, 'Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya'. Selanjutnya beliau membaca (Al-An'am 153), 'Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.'" [HR Ahmad & Nasa'i]
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah & Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: 'Kami dengar & kami ta'at', dan mereka itulah orang-orang yg beruntung." [Q24.51]
“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi Allah akan menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlombalah berbuat kebajikan.” [Q5.48]
It's Clear..!
Subscribe to:
Posts (Atom)
[tuning]
Wallahu'alamu...
...astaghfirullah ..astaghfirullah ..astaghfirullah!
“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".” (QS Al-Kahfi 29)
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS Al-’Ankabut 69)


















-(baiti)_baiti-jannati.gif)
_iklan-shampoo.gif)


_klipingku.gif)

_the-power-of-niat.gif)
_FM993-AM756.gif)

_no-free-trade.gif)
_zeitgeist.gif)
Assalaamu'alaikum...