Dzun Tiqom

(Maha Pembalas Dosa)

Saudaraku…

Salah satu sifat Allah subhanahu wa ta ‘ala yang sangat indah dan penuh hikmah adalah dzun tiqom. Artinya Allah subhanahu wa ta ‘ala Maha Pembalas Dosa atau Maha Menghukum yang bersalah. Di satu pihak, Allah Maha Mengasihi, Maha Mengampuni, mau dan bisa mengampuni. Tetapi karena hikmah yang besar, Dia juga tidak bisa begitu saja mengampuni, karena terkait dengan Maha Adil-Nya yang harus menghukum seorang pendosa.

Allah subhanahu wa ta ‘ala akan membalas semua keburukan dengan seadil-adilnya. Tidak ada yang bisa menolak, membantah ataupun lolos bila Allah subhanahu wa ta ‘ala sudah menetapkan hukuman kepada manusia. Setitik dosa pasti ada pertanggung-jawabnya.

Allah subhanahu wa ta ‘ala berfirman: “Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” (QS Az-Zalzalah, 8)

Ilmu Allah subhanahu wa ta ‘ala meliputi segala sesuatu, sekecil apapun itu.

(Luqman berkata:) “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS Luqman, 16)

Kita harus selalu waspada terhadap rayuan yang mengajak dan mempengaruhi manusia melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Apa yang dilakukan manusia, sejak dari yang besar sampai yang sekecil-kecilnya, yang nampak dan yang tidak nampak, yang terlihat dan yang tersembunyi, baik di langit maupun di bumi, pasti diketahui Allah. Karena itu Allah pasti akan memberikan balasan yang setimpal dengan perbuatan manusia itu; perbuatan baik akan dibalasi dengan surga yang penuh kenikmatan, sedang perbuatan jahat dan dosa akan dibalas dengan neraka yang menyala-nyala. Pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu yang tidak ada sedikitpun yang luput dari pengetahuan-Nya.

Hati-hatilah wahai saudaraku…

Jika kita sudah merasa nikmat dengan berbuat dosa baik dengan meninggalkan kewajiban atau dengan melakukan larangan-larangan yang Allah haramkan, maka sesungguhnya itu adalah tipu daya setan yang membuat keburukan menjadi indah. Sehingga kita terkurung dalam lingkaran setan tanpa berkeinginan untuk keluar. Ia adalah kenikmatan semu yang bersumber dari hawa nafsu. Nafsu yang sudah akrab dengan dosa, akan mendorong kepada keburukan (ammaratun bissu). Di saat kita berbuat dosa maka nafsu mendorong kita untuk terus menambah dan memperbanyak dosa, karena ia tidak akan pernah merasa puas, ibarat meminum air laut, semakin diminum akan semakin haus.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan kondisi hawa nafsu manusia yang tidak pernah merasa puas dengan sabdanya, “Seandainya anak cucu Adam diberikan sebuah lembah yang berisi emas, niscaya dia akan berharap untuk mendapatkan lembah emas yang kedua , dan tidak ada yang bisa menyumpal mulutnya selain tanah kuburan (dia akan terus menjadi tamak hingga dia mati).” (HR Ibnu Majah)

Di saat nafsu kita terus berkobar, pada saat yang sama justru hati nurani kita semakin tertutupi dan merasakan kegersangan, bahkan hidup terasa sempit dan hampa. Hati nurani kita tertutupi oleh noda-noda dosa yang kelam, karena setiap satu dosa yang dilakukan ia menjadi satu titik hitam di hati kita.

Hentikanlah dosa sekarang juga! Sebab, timbangan untuk menimbang dosa pun sangat detail dan sangat tepat.

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun.” (QS Al Anbiya, 47)

Allah subhanahu wa ta’ala menyebut Dirinya sebagai syadidul iqob (keras siksanya). Balasan-Nya bisa menimpa di dua negeri, dunia maupun akhirat.

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Al Baqoroh, 201)

Dikutip dari Kartu Dakwah seri ke-28 terbitan HASMI (Radio Fajri FM) Bogor.


Menghindari Syubhat


Suatu waktu Bisyr berdagang ke Negeri Mesir dengan membawa 80 potong kain sutera. Semua barang dagangan Bisyr didapati dari Imam Abu Hanifah. Di antara 80 potong kain sutra itu ternyata ada 1 potong kain yang cacat. Hal itu oleh Abu Hanifah diberitahukan kepada Bisyr agar dikatakan terus terang kepada calon pembelinya.

Di Mesir, barang dagangan Bisyr habis terjual, tanpa kecuali sepotong kain sutera yang cacat tersebut. Imam Abu Hanifah tentu saja sangat senang menerima laporan dan setoran uang hasil penjualan dagangannya. Namun, tiba-tiba Abu Hanifah menjadi sedih, ketika mengetahui bahwa sepotong kain yang cacat itu ikut terjual tanpa diberi tahu keadaan kain itu sebenarnya kepada si pembeli. Dan kain yang cacat itu terjual dengan harga yang biasa. Bisyr pun berkata, “Maaf, Aku telah lupa mengatakannya, Abu Hanifah.”

Abu Hanifah sangat menyesal mendengar laporan Bisyr tersebut. Dia menyesal karena rezeki yang diterimanya itu menjadi syubhat sebab Bisyr lupa mengatakan keadaan sebenarnya mengenai kain sutera cacat yang dijual.

Akhirnya, Imam Abu Hanifah membagi-bagikan uang 1.000 dinar hasil penjualan kepada fakir miskin, karena Imam Hanifah tidak mau rezekinya yang halal tercampur dengan barang yang syubhat.

Begitu indah teladan Imam Abu Hanifah tersebut. Dari kisah tersebut Sang Imam mengajarkan kita untuk selalu jujur pada transaksi bisnis dan menghindari syubhat. Rasulullah SAW telah bersabda, “Sesungguhnya yang halal sudah jelas dan yang haram sudah jelas, di antara keduanya ada perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barang siapa berhati-hati dengan yang syubhat, ia telah memelihara agama dan kehormatannya. Barang siapa yang terjatuh pada syubhat, maka ia telah terjerumus pada yang haram”. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari An-Nu’man bin Basyir.

Dalam hadis tersebut Rasulullah SAW menganjurkan umatnya menghindari perkara syubhat, karena dikhawatirkan terjebak dan berpotensi masuk ke dalam perbuatan haram. Syubhat dihindari agar dapat menjaga kehormatan dirinya.

Sabda Nabi Muhammad SAW tersebut merupakan peringatan bagi umat untuk berhati-hati dalam masalah halal dan haram, serta sesuatu yang tidak jelas (syubhat) antara halal dan haram. Perihal syubhat tersebut bisa terkait makanan yang dikonsumsi, nafkah kepada keluarga, rezeki yang didapat, maupun hal lain yang terkait dengan hidup keseharian manusia.

Kir atau kalibrasi perlu untuk menghindari syubhat! ..."Bang beli jeruk 1 kg!"

Syubhat dalam Islam harus dihindari karena secara umum perkara yang samar-samar menimbulkan keraguan. Oleh sebab itu, meninggalkan segala sesuatu yang meragukan merupakan perbuatan mulia.

Dari hadis riwayat Imam Muslim di atas, tersurat bahwa dengan menghindari perkara syubhat akan memberi dampak pada akhlak manusia. Dengan menghindari syubhat di akhirat ia akan menghindari manusia dari neraka dengan segala siksanya. Karena dengan menghindari syubhat manusia terhindar dari menzalimi dirinya dan manusia lainnya.

Islam mengharamkan merugikan orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ibnu Majah yang bersumber dari Ubadah bin Ash-Shamit, “Tidak boleh merugikan dan dirugikan.

Semoga bermanfaat!

Wa Allahu a'lam.
(Muhammad Arif Fadhillah Lubis, SHI, MSI)
 http://waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=15822:menghindari-syubhat-&catid=80:lentera&Itemid=251

Baca juga: Penyakit Syubhat & Syahwat





Dari YouTube...
Dari sebuah Debat... "Siapakah Yesus... Tuhan atau Nabi?"


Lihat langsung di YouTuberuth...


Akhlaqul Karimah

(Budi pekerti yang baik)

Berakhlaqul karimah!


Karena kita tidak sendirian...

Jika kalian sedang bertiga, maka janganlah dua orang berbisik tanpa (mengikutkan) seorang yang lain, sehingga kalian membaur dalam pergaulan dengan manusia, sebab yang demikian itu akan membuatnya sedih.” (HR Bukhari)

.., jika engkau memasak makanan berkuah, perbanyak airnya, lalu bagi-bagikan ke tetanggamu!” (HR Muslim)

“Bukanlah seseorang yang sempurna imannya orang yang kenyang sementara tetangganya dalam keadaan lapar.” (HR Bukhari)

“Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman!” Beliau pun ditanya, 'Siapa, wahai Rasulullah?' Jawab beliau, 'Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.'" (HR Bukhari & Muslim)

Seorang muslim sejati adalah bila kaum muslimin merasa selamat (aman) dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Muslim)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (QS An-Nur: 27)

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS Al-Maaidah: 8)

dan bahkan kepada hewan pun...

“Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan (kebaikan) pada segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih, maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih. (Yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelihnya.” (HR Muslim)

“Ketika kamu melakukan perjalanan melalui sebuah daerah yang subur, maka perlambatlah agar unta-untamu sempat makan rumput. Dan jika kamu melewati sebuah wilayah yang tandus dan kering, percepatlah langkahmu untuk menyedikitkan rasa lapar yang menimpa binatang-binatang itu.” (HR Muslim)

“Suatu hari kami bepergian bersama Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Di tengah perjalanan, beliau memisahkan diri untuk menunaikan hajat. Saat itu kami melihat induk burung bersama kedua anaknya yang masih kecil. Maka kami mengambil dua anak burung itu. Induk burung pun mengepak-epakkan sayapnya gelisah. Manakala Nabi shallallahu’alaihiwasallam datang beliau bertanya, “Siapa yang menyakiti burung ini (dengan mengambil) anaknya? Kembalikan anaknya kepada sang induk!”. Beliau juga melihat ada perkampungan sarang semut telah dibakar. Beliaupun berkata, “Siapa yang membakar ini?”. “Kami”. “Tidak pantas menyiksa dengan api kecuali Penguasa api” (HR Abu Dawud dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Hakim)

dan kepada saudara kita yang sedang tidak berada di sekitar kita pun...

Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. …” (QS Al Hujurat: 12)

“Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui”. Beliau bersabda: “Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya (tidak disukainya)”, ditanyakan: “Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku?” Nabi menjawab: “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta padanya.” (HR Muslim)


dan karena ini adalah salah satu sebab diutusnya rasulullah...

Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR Ahmad)

Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia yang paling bagus akhlaknya.” (HR Bukhari & Muslim)

Sungguh engkau (wahai Muhammad) berbudi pekerti (memiliki akhlak) yang agung.” (QS Al-Qalam: 4)

sehingga...

Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR At-Tirmidzi)

Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak di hari kiamat daripada budi pekerti (akhlak) yang baik. Dan sungguh Allah membenci orang yang suka berkata keji, berucap kotor(jelek).” (HR At-Tirmidzi)

“Rasulullah ditanya tentang perkara apa yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga. Beliau menjawab, ‘Takwa kepada Allah dan budi pekerti (akhlak) yang baik.’ Ketika ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, beliau jawab, ‘Mulut dan kemaluan’.” (HR Bukhari)

Dalam riwayat lain Rasulullah bahkan memberikan jaminan atau garansi...
Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya (lisan) & apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin untuknya surga.” (HR Bukhari)

dst... dst...

Baca juga:
Islam Agama Kasih Sayang
Tauhid & Aqidah, Definisi dan Cakupan Bahasannya


Kotretan...
Qualitas AKHLAQ terhadap makhluq dan Khaliq berbanding lurus dengan Qualitas AQIDAH serta TAUHID yang benar dan lurus.
Dan semua itu bersumber dan berdasarkan pada pemahaman ILMU.

Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, hendaklah dengan ilmu. Siapa yang ingin kehidupan akhirat dengan ilmu. Dan siapa yang menginginkan keduanya (dunia & akhirat) juga dengan ilmu” [HR Bukhari & Muslim]

Kamus...
Kejahilan artinya adalah kebodohan.

Murni Hidayah...
Non Muslim di Indonesia kurang tertarik dengan Al Islam karena akhlak -sebagai garda terdepan- sebagian muslim di Indonesia tidak membawa mereka untuk "mau" mempelajari Islam lebih jauh.


Meniti Jalan Meraih Kecintaan Allah, Sebuah Catatan Singkat dari Istiqlal

10 Jalan untuk Meraih Kecintaan Allah subhanahu wata’ala...

Oleh: Syaikh Prof. Dr. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr hafizhahullah, Masjid Istiqlal 19 Feb. 2012.


1. Memberikan perhatian yang serius terhadap Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya.

Apakah mereka tidak memperhatikan (mentadabburi) Al Quran? Sekiranya Al Quran itu tidak datang dari sisi Allah, maka tentulah mereka temukan banyak pertentangan di dalamnya.” Q4.82.

2. Mengenal asma-asma Allah yang husna (baik) dan shifatnya yang tinggi/mulia. Dan Allah memiliki nama-nama yang indah, maka berdoalah dengan nama-nama itu. Orang yang paling mengenal Allah, maka dialah yang paling besar rasa takutnya pada Allah, dan paling jauh dari perbuatan maksiat.

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah itu hanyalah orang-orang yang berilmu.” Q35.28.

3. Senantiasa memohon pertolongan kepada Allah dan banyak berdoa pada-Nya, dan bersungguh-sungguh meminta pada-Nya.

Dan jika hamba-Ku bertanya padamu tentang-Ku, maka katakanlah bahwasanya Aku dekat. Aku kabulkan doa mereka jika mereka berdoa.” Q2.186.

Dan do'a-do'a yang diajarkan:
  • Ya Allah aku memohon pada-Mu, kecintaan pada-Mu, kecintaan pada orang yang mencintai-Mu, dan kecintaan pada amal yang mendekatkan diri pada kecintaan-Mu.
  • Ya Allah sesungguhnya aku menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang besar, maka ampuni aku, sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
4. Memberikan kesungguhan dalam melaksanakan amalan-amalan wajib dari Allah. Setelah itu berusaha menundukkan hawa nafsu dan menghiasi dengan amalan-amalan sunnah.
Dalam Hadits Qudsi, bahwa Allah mencintai seorang hamba yang melakukan amalan wajib kemudian amalan sunnah.

5. Bersungguh-sungguh (mujahadah) menundukkan hawa nafsu untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah. Karena semua dosa dan maksiat akan menjadikan tertutupnya hati manusia, bahkan menjerumuskan ke dalam jurang kebinasaan.

6. Selalu mendahulukan apa-apa yang dicintai Allah daripada yang kita cintai. Dan menjadikan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai dari yang lain.

Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman:  Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka”. (HR Bukhari)

7. Bersyukur dengan merenungkan nikmat Allah yang dianugerahkan pada manusia. Allah telah memberikan apa-apa yang kalian minta. Jika kita hitung maka tidak akan terhitung banyak nikmatNya.

8. Bergaul dengan orang-orang shalih, mereka yang bersungguh-sungguh dalam melakukan amalan yang dicintai Allah. Untuk mengambil manfaat dari nasehat mereka, amalan mereka, meneladani akhlak mereka.

Seseorang itu agamanya sesuai dengan agama orang terdekatnya. Maka lihatlah siapa orang terdekatmu.” (HR Abu Dawud)

9. Berusaha sungguh-sungguh untuk beribadah di sepertiga malam terakhir.

"Allah turun ke langit dunia di sepertiga malam. Dia berfirman, Siapa yang berdoa pada-Ku, Aku kabulkan doanya, Siapa yang meminta-Ku akan Kuberi, yang memohon ampun pada-Ku, Aku ampuni dosa-dosanya." (HR Bukhari dan Muslim)

10. Terus menerus berdzikir pada Allah subhanahu wata’ala.

"Orang-orang yang beriman yang hati mereka merasakan ketenangan dan kedamaian ketika mengingat Allah. Sesungguhnya dengan berdzikir maka hati menjadi tenang." Q13.28.


Barangsiapa mencintai sesuatu, dia akan banyak menyebut-nyebut yang dia cintai itu.


Demikian 10 sebab untuk meraih kecintaan Allah subhanahu wata’ala.

Bukan berarti hanya ada 10, masih ada sebab-sebab yang lain. Hanya saja semoga 10 hal ini menjadi pengingat bagi kita.

Dan akhir dakwah kami,  
Segala puji bagi Rabb semesta alam, Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

Sumber: http://alqiyamah.wordpress.com/2012/02/19/meniti-jalan-meraih-kecintaan-allah-sebuah-catatan-singkat-dari-istiqlal/#more-13196



Syeikh Dr. Abdurrozzaq: Ukuran Keimanan bisa dilihat Shalat Subuh dan Asharnya

Jika shalat lima waktu ringan kita kerjakan, ibadah atau amalan lainnya juga dengan sendirinya ringan dilakukan

Hidayatullah.com—Ukuran keimanan seseorang salah satunya bisa dilihat dari pelaksanaan shalat Subuh dan shalat Ashar. Demikian disampaikan Syeikh Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al Badr, guru besar bidang akidah di Universitas Islam Madinah (UIM)

Kalau akidahnya benar, keyakinannya benar, maka kita tidak akan melewatkan shalat Subuh dan Ashar. Amal yang paling utama dilihat dari seorang hamba adalah amalan shalatnya. Jika kalian mampu mengalahkan urusan dunia untuk shalat Subuh dan Ashar, maka itu akan meringankan pelaksanaan ibadah lainnya,” ujarnya pada Acara Tabligh Akbar “Pesona Surga”, Ahad 31 Agustus 2014 di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Menurut pengajar tetap di Masjid Nabawi ini, tingkatan keimanan seseorang dikaitkan dengan pelaksanaan shalat di kedua waktu tersebut merujuk pada berbagai hadits Nabi.

Mudahnya seseorang melaksanakan shalat di kedua waktu tersebut berarti mudah juga shalat di tiga waktu lainnya.

Jika shalat lima waktu ringan kita kerjakan, ibadah atau amalan lainnya juga dengan sendirinya ingin kita lakukan.”

Walau masalah ini sudah banyak dikaji di berbagai majelis ilmu, ia mengingatkan jamaah untuk tidak menganggap shalat sebagai ibadah biasa.

Menukil Surat Al-Qiyamah ayat 24, di mana menjelaskan “wajah-wajah orang kafir pada hari kiamat menjadi muram.”

Kemudian dijelaskan penyebab kemuraman mereka karena akan tertimpa malapetaka yang sangat dahsyat. Penyebab turunnya adzab tersebut dijelaskan di ayat 31: “Karena dia (mereka dahulu) tidak mau membenarkan Al-Quran Rasul dan tidak mau shalat”.

Syeikh menjelaskan, pahala shalat selama hidup di dunia menjadi amalan penting untuk melihat wajah Allah di hari kiamat.

Barangsiapa ingin melihat wajah Allah maka hendaknya Ia meningkatkan amal shalihnya. Barangsiapa ingin melihat wajah Allah, jangan lupa berdoa. Dan barangsiapa mendahulukan dunia, begadang dan akhirnya melewatkan shalat Subuh dan Ashar, maka Ia tidak akan melihat wajah Allah,” “ucapnya tandas.

Sebab, untuk melihat wajah Allah, adalah suatu kenikmatan tiada tara bagi orang-orang beriman.*


Baca juga: My First Love | Mereka yang Dicintai Allah | Do'a Nabi Daud as Memohon Cinta Allah | 3 Amalan Utama dan Dicintai Allah |


Baiti Jannati

...Home Sweet Home
Links & Downloads

Screensaver & Wallpaper
Download all (12 pictures)

Contoh Wallpaper

8R Framed Picture
Download all 8R unframed pictures (6 pictures)

Contoh Wall Framed Picture

Stickers
(klik di gambar untuk memperbesar!)

Dibalik pintu keluar rumah
Dibalik pintu pagar rumah (di-laminating)

LINKS ________________________________________________________________________


Think Essential (explore!)
Home Sweet Home
Al Manhaj

Highlight...
Wasiat (explore!)
Al Quran | Alt.
Al Hadits
Al Firqatun Naajiah
Klipingku..!

DOWNLOADS_________________________________________________________________


Sidebar Cuka Apel ORGANIK
Duniawi... | Alt.

Highlight...
Iqra-1 | Alt.
Iqra-2 | Alt.
Zuhud | Alt.
Firqatun Naajiah
Talbis Iblis

_________________________________________________________________________________



Karena inilah salah satu ketetapan-Nya... Q43.36!


Khalifah adalah Pengganti…

Kotretan...


(Mengapa Dinosaurus Punah? )
Dan karena Kau Maha Pencipta serta Maha Berkehendak...

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang pengganti (khaliifah) di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS Al Baqarah, 30)

Kata khaliifah yang berasal dari kata khalif dan jamaknya adalah khulafa atau khalaif dalam kamus al Munawwir berarti pengganti.

Untuk mendapatkan gambaran tentang makna khaliifah dapat kita telusuri dengan pemahaman dan penafsiran dari ayat-ayat berikut ini:
  • Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (khulafa) -yang berkuasa- sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q7.69)
  • Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (khulafa) -yang berkuasa- sesudah kaum 'Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (Q7.74)
  • Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (khalaaif) –mereka- di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (Q10.13-14)
  • Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu (yastakhlif) dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain. (Q6.133)
  • Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya (wakhtilaaf) malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q3.190-191)

Para ahli tafsir sepakat bahwa maksud kata khaliifah pada Q2.30 adalah Adam as. Selain Adam as, Daud as juga disebut dalam Quran sebagai khaliifah (Q38.26) keduanya diberi kepercayaan dan amanah untuk memimpin dan mengelola bumi. Namun dalam perjalanan hidupnya digambarkan Quran keduanya pernah tergelincir tetapi diampuni Allah subhanahu wa ta'ala.

Adam as ketika akan dijadikan khalifah, malaikat menyangkal perlunya seorang khalifah di bumi karena sudah ada mereka (para malaikat) yang selalu bertasbih dan memuji Allah serta mensucikannya, sedangkan khalifah mempunyai potensi untuk membuat kerusakan di bumi dan selalu menumpahkan darah. Potensi inilah yang diperhatikan malaikat. Kemudian Allah mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak dapat diketahui sama sekali oleh Malaikat mengenai khalifah itu yaitu inisiatif...


Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir mengenai QS Al Baqarah, ayat 30 (Q2.30)...

Allah subhanahu wa ta'ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala’ul A’la, sebelum mereka diadakan. Maka Allah berfirman, ”Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat.” Maksudnya, hai Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaummu. ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Yakni, suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, ”Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi.” (Q35.39)

Maka kata khaliifah dalam Q2.30 menurut tafsir Ibnu Katsir berarti pengganti.

Adapun dengan kalimat ”Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah...” Seolah-olah Allah memberitahukan kepada para malaikat bahwa apabila di bumi ada makhluk, maka mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana. Perkataan malaikat ini bukanlah sebagai bantahan kepada Allah sebagaimana diduga orang, karena malaikat disifati Allah sebagai makhluk yang tidak dapat menanyakan apa pun yang tidak diizinkan-Nya.

Ibnu Jarir berkata, ''Sebagian ulama mengatakan, 'Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti itu, karena Allah mengizinkan mereka (para Malaikat) untuk bertanya ihwal hal itu setelah diberitahukan kepada mereka bahwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam'. Mereka berkata, ''Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya?'' Sesungguhnya mereka bermaksud mengatakan bahwa di antara keturunan Adam itu ada yang melakukan kerusakan. Pertanyaan itu bersifat meminta informasi dan mencari tahu ihwal hikmah. Maka Allah berfirman sebagai jawaban atas mereka, Allah berkata, ''Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,'' yakni Aku (Allah) mengetahui kemaslahatan yang baik dalam penciptaan spesies yang suka melakukan kerusakan seperti yang kamu sebutkan, dan kemaslahatan itu tidak kamu ketahui, karena Aku akan menjadikan di antara mereka para nabi, rasul, orang-orang saleh, dan para wali."

Ulama lain menafsirkan ayat di atas dengan 'menjadikan sebagai khaliifah bagi makhluk sebelumnya' yang terdiri atas jin atau makhluk lain yang mungkin berada di muka bumi yang ada sebelum spesies manusia.


Musnah & BINASA…
(Karena Kau Maha Pencipta dan Berkehendak)

Q6.6. Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. 
Q19.74. Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap di pandang mata.
Q19.98. Dan berapa banyak telah Kami binasakan umat-umat sebelum mereka. Adakah kamu melihat seorangpun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar?
Q36.31. Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. 
Q38.3. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri.
Q50.36. Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)? 
Q20.128. Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Lihat juga: Q32.26.

Karena  Kezaliman…

Q8.54. (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim.
Q10.13. Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.  Lihat juga: Q7.101. 
Q21.11. Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya).
Q22.45. Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi...

Q27.51. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. 
Q28.58.-59 Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. Dan Kami adalah Pewaris(nya). Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.

Kaum Hud, Luth, Nuh, 'Aad, Tsamud, Madyan dll…

Q9.70. Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. 
Kaum Tsamud
Q69.5. Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa.
Q53.51. ...Dan kaum Tsamud, maka tidak seorang pun yang ditinggalkan-Nya (hidup).
Q11.68. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.
Q11.100-101. Itu adalah sebahagian dan berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.
Q17.17. Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.
Q26.139. Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.  Lihat juga: Q11.117-119.

Q30.8-10. Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya.
Q26.208. Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan;


"I am tottaly in charge of my Games..."
Strategy Games.
Suatu Ketentuan (Kehendak)…

Q47.4. Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.


Q14.19-20. Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru, dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah. Lihat juga: Q4.133 & Q35.16.
Q15.4. Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan.
Q17.58. Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).
Q54.49-53. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.

Berserahlah..! Inilah Jalan Keselamatan
Q55.26. Semua yang ada di bumi itu akan binasa.

Q28.43. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.

Q28.88. Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.


Karena itulah alam semesta diciptakan serta para nabi dan rasul diutus-Nya... hanya untuk menegakkan kalimat Laa ilaha illa Allah...

Dan karena "...Aku tidak menciptakan JIN & MANUSIA melainkan supaya mereka mengabdi /beribadah /menyembah kepada-Ku" (QS Adz Dzaariyaat 56)


Ayat-ayat Renungan:
... Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu." Q34.41

Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)."
Q30.42 

Wallahu'alamu

Baca juga:
Bangsa-bangsa yang Telah Musnah | Kartun: SpongeBob | Hikmah Agung dibalik Kecanggihan TeknologiWhy am I on this earth? | Unsur Cahaya, Api, Tanah & Air dalam Penciptaan | Umur Bumi Sepertiga Umur Langit | Keajaiban Quran | Mengenal Jin (Makhluk Cerdas Selain Manusia) | Jejak Iblis |


Jadilah yang sedikit..!

As seen on TVs
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)*. [Q6.116]
*Seperti menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah; menyatakan bahwa Allah mempunyai anak…


It's Clear...
Sudah menjadi sunnatullah, umat Islam terpecah menjadi 73 golongan, sebagaimana sebelumnya umat Yahudi dan Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh golongan lebih.

"... Dan demi Dzat Yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan akan masuk surga dan 72 lainnya (mampir dulu) ke neraka.” Rasulullah ditanya: “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Al Jama’ah." (HR Ibnu Majah)

"... dan umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk (dulu) ke neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya: “Siapa mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Siapapun yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku ada padanya." (HR Abu Dawud & At-Tirmidzi)

Ibnu Mas'ud meriwayatkan: "Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, 'Ini jalan Allah yang lurus'. Lalu beliau membuat garis-garis di kanan-kirinya, kemudian bersabda, 'Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya'. Selanjutnya beliau membaca (Al-An'am 153), 'Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.'" (HR Ahmad dan Nasa'i)
  • "... Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku (Iblis) sesatkan keturunannya (Adam as), kecuali sebahagian kecil." [Q17.62]
  • Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. [Q43.36]
  • “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi Allah akan menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlombalah berbuat kebajikan.” [Q5.48]
Wallahu'alamu
http://think-essential.blogspot.com/2007/10/jadilah-yg-sedikit.html

__oOo__


FILTERISASI...
(hanya sebuah ilustrasi)


Keterangan:
A. "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)". (Q6.116)

B. Di akhir zaman, setelah datangnya kebenaran dari Allah ta'ala kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam sebagai penutup para Nabi dan Rasul... "Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam..." (Q3.19); "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (Q3.85); "...maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (Q2.132).
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidaklah mendengar tentangku (diutusnya aku) seorangpun dari umat ini, baik ia seorang Yahudi maupun Nashrani, kemudian ia mati dan belum beriman dengan apa yang aku bawa (Syari’at Islam) melainkan ia termasuk penghuni neraka.” (HR Muslim)
C. Sudah menjadi sunnatullah, umat Islam terpecah menjadi 73 golongan, sebagaimana sebelumnya umat Yahudi dan Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh golongan lebih... "...Dan demi Dzat Yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan akan masuk surga dan 72 lainnya (mampir dulu) ke neraka.” Rasulullah ditanya: “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Al Jama’ah." (HR Ibnu Majah); "... dan umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk (dulu) ke neraka, kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya: “Siapa mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Siapapun yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku ada padanya." (HR Abu Dawud & At-Tirmidzi).
Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan". Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan (untuk masuk surga)?”. Beliau menjawab, “Barang siapa yang taat padaku maka ia akan masuk surga, dan barang siapa yang tidak mentaatiku berarti ia telah enggan (untuk masuk surga)”. (HR Bukhari)
D. Ibnu Mas'ud meriwayatkan: "Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, 'Ini jalan Allah yang lurus'. Lalu beliau membuat garis-garis di kanan-kirinya, kemudian bersabda, 'Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya'. Selanjutnya beliau membaca (Al-An'am 153), 'Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.'" (HR Ahmad dan Nasa'i)

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka." (Q15.39-40) dan lihat juga QS Shaad 82-83!

... Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku (Iblis) sesatkan keturunannya (Adam as), kecuali sebahagian kecil." (Q17.62)


Kesimpulan?
Golongan yang SEDIKIT di akhir zaman ini adalah...
  • Mereka yang ber-ittiba' kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan para sahabatnya.
  • Para mukhlishin yaitu mereka yang selalu meng-ikhlash-kan (memurnikan) segala bentuk peribadatan kepada Allah ta'ala dari segala bentuk atau unsur kebid'ahan dan kesyirikan.
  • Mereka yang berjama'ah (hanya dalam kemurnian; tidak terikat oleh daerah/kelompok/golongan/organisasi/aliran dst dan berdakwah hanya mengajak kepada Allah & Rasul-Nya -bukan kepada suatu individu/kelompok/golongan/aliran tertentu). [“Dari Abu Darda’ radhiallaahu anhu, ia berkata,‘Aku mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di suatu desa maupun di dusun, kemudian di sana tidak dilaksanakan shalat berjama’ah, terkecuali syetan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu senantiasa bersama jama’ah, karena sesungguhnya serigala hanya akan memangsa domba yang jauh terpisah (dari rombongannya)’.” (HR Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan lainnya, hadits hasan)]
Golongan yang MURNI dan MENYATU, atau dengan kata lain Golongan yang Bersatu (Berintegrasi) dalam Kemurnian Al Islam.

2 Pertanyaan?
  1. Apakah golongan yang sedikit ini adalah 1 golongan dari 73 golongan yang akan selamat (al firqah an-najiyah) yang akan langsung masuk ke dalam syurga Allah ta'ala tanpa "mampir dulu" ke neraka-Nya?
  2. Dan siapakah golongan yang kebanyakan?
 
Wallahu 'alam
Ya Muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala diinik, Ya Musharrifal qulub sharrif qalbi ila thaa’atik.
Laa haula wa laa quwwata illa billah...


"Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara..." (Q49.10)

...Q32.13!


Kebanyakan...

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. ... Q6.116

...jadi yang sedikit!?

Kebanyakan manusia adalah fasik, tidak mengetahui, tidak bersyukur, tidak beriman!

...kebanyakan?


“Barangsiapa menyerupai (meniru-niru) suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

"Kalian akan benar-benar mengikuti cara hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga andai mereka memasuki lubang biawak, maka kalian pun mengikuti mereka". Kami (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nashrani". Beliau menjawab, "Siapa lagi kalau bukan mereka". (HR Bukhari) 

"Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya: Iedul Adha dan Iedul Fithri." (HR Ahmad)

Wallahu'alamu

Hukum Perayaan Menyambut Tahun Baru


My First Love...

My First Verses...

Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q24.45)

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (Q21.30)

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah/pemimpin/pengganti di muka bumi." Mereka (Para Malaikat) berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah/pengganti) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan serta berselisish satu sama lain sampai menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q2.30) ...Must Read: Jeffrey Lang Berkisah tentang Adam dan Hawa...

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali... (Q103)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q51.56)

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi... (Q70.19)

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Q29.2)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (Q49.15)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar - (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (Q2.155-156)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Q29.64)

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. - Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (Q11.15-16)

…dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, … (Q53.39)

Barangsiapa yg mengerjakan amal saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri & barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; ... (Q41.46)

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (Q59.19)

... Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu. Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, ... (Q5. ...48...) ...klik di sini untuk sebuah artikel!

Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, .... (Q4.144)

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (Q17.53)

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis ... (Q2.282)

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah... (Q2.233)

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (Q35.5)
dst … 


 Apa kata Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam tentang dunia...
 
"Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut, air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia" (HR Muslim)



Alam Semesta (Universe) | Umur Bumi Sepertiga Umur Langit | Keajaiban Quran dan Ilmu Pengetahuan | Cahaya, Api, Tanah dan Air dalam Penciptaan | Tadabur Quran Yuk! | Download Quran 30 Juz & Terjemahannya...


[tuning]


“Ruh-ruh manusia diciptakan laksana prajurit berbaris, maka mana yang saling kenal di antara satu sama lain akan bersatu. Dan mana yang saling mengingkari di antara satu sama lain akan berpisah.”
(HR Muslim 4773)


Wallahu'alamu...
...astaghfirullah ..astaghfirullah ..astaghfirullah!

“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".” (QS Al-Kahfi 29)
Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS Al-’Ankabut 69)